Sesjen Wantannas Tutup Kegiatan Ramusmat

Pada tanggal 16 s.d 18 Februari 2016 Setjen Wantannas menyelenggarakan Rapat Kelompok Kerja Khusus/Pokjasus dan Rapat Perumusan Materi/Ramusmat yang merupakan tindak lanjut dari Rapat Kerja Terbatas/Rakertas. Kegiatan paparan Pokjasus dan Ramusmat dilaksanakan di Ruang Nakula, Lt.6 Gedung A, Kantor Kemenko Polhukam, Jl.Medan Merdeka Barat 15, Jakarta Pusat. Hadir dalam kesempatan tersebut Sesjen Wantannas, Letjen TNI M.Munir, Para Deputi, para Sahli, para Bandep, para Anjak, dan para Pakar/Narasumber. Acara dipandu oleh Moderator, Deputi Jiandra, Laksda TNI Ir. Eko Djalmo Asmadi, MH.

Leo Agustino,Ph.D akademisi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa berkesempatan untuk mengawali paparan mengenai Optimalisasi Hubungan Sinergis Antar- dan Inter- Lembaga Negara Guna Mewujudkan Tujuan Nasional yang Maju, Mandiri, dan Sejahtera. Dalam latar belakangnya Leo menyampaikan bahwa tujuan amandemen UUD NRI 1945 agar tercipta prinsip separation of powers / pemisahan kekuasaan guna menghadirkan mekanisme checks and balances /pengawasan timbal balik yang sesuai dengan skema sistem demokrasi presidensial. Namun pada kenyatannya perubahan tersebut justru menimbulkan persaingan legitimasi yang cenderung konfliktual. Pokok-pokok persoalan yang ditemui antara lain pelaksanaan amandemen konstitusi yang tambal sulam dan tidak utuh serta skema dan atau sistem pemilu serta sistem kepartaian yang tidak didesain untuk memperkuat sistem presidensial. Kajian ini dibuat untuk mencari formula yang tepat agar hubungan antar lembaga negara tidak konfliktual.

Pemapar yang kedua, Moch.Billamar dari Asosiasi Tuna Indonesia menyampaikan paparannya mengenai Pengembangan Pangsa Pasar Produk Perikanan Dalam Rangka Menghadapi Pasar Bebas. Beberapa pokok persoalan yang disampaikan adalah terbatasnya jumlah armada perikanan nasional buatan dalam negeri yang beroperasi, mata rantai distribusi yang belum efektif dan teknologi pasca panen yang masih tertinggal. Dalam analisanya Billamar menambahkan bahwa distribusi produk ikan tidak efektif, berdampak pada tingginya biaya operasional, kualitas produk menurun dan berdampak pada harga jual ikan. Di sisi lain produk perikanan memiliki karakter sangat fluktuatif dan mudah rusak sehingga dibutuhkan teknologi penanganan pasca panen dan pengolahan hasil perikanan serta turunannya.

Bahasan terakhir yang dipaparkan adalah Peningkatan Kesiapan SDM Pariwisata Guna Menghadapi MEA. Asnawi Bahari,SE,M.Si dari Asosiasi Perjalanan Pariwisata Indonesia mengatakan bahwa sektor pariwisata merupakan sumber devisa terbesar ke-4 bagi Indonesia. Kesiapan SDM Pariwisata Indonesia dibandingkan dengan SDM di beberapa negara di ASEAN masih ketinggalan. Selanjutnya industri pariwisata belum menjadi prioritas pembangunan ekonomi nasional dan pemberdayaan kearifan lokal bidang pariwisata belum optimal.

Sesjen Wantannas, Letjen TNI M.Munir memberikan tanggapan bahwa kasus pencurian ikan di perairan Indonesia sudah dilakukan sejak dulu. Dalam kegiatan kunjungan daerah ke Kabupaten Kepulauan Sangihe beberapa waktu yang lalu, Sesjen menyampaikan bahwa dihadapkan pada armada kapal yang tersedia, nelayan lokal hanya mampu berlayar selama dua hari, sementara nelayan Philipina mampu berlayar selama 20 hari. Kondisi perekonomian di Philipina di sektor perikanan lebih maju dibandingkan dengan di Kab. Sangihe yang notabene daerah penghasil ikan. Salah satu permasalahannya adalah tidak adanya pabrik pengolahan ikan. Sesjen juga mengapresiasi tindakan penenggelaman kapal asing yang tertangkap mencuri ikan, namun itu sebagai solusi jangka pendek. Solusi jangka panjang yaitu perlunya pemerintah mempunyai armada penangkap ikan yang tangguh dan dilengkapi dengan teknologi yang maju, sehingga diharapkan ikan yang keluar dari kapal berupa ikan kaleng yang siap di pasarkan.

Tanggapan terakhir disampaikan oleh Deputi Sisnas, Mayjen TNI Dr. Drs. TSL Toruan,MM.D.SS yang lebih memberikan penekanan kepada ‘pakem’ dan tata cara penulisan yang berlaku di Setjen Wantannas, sehingga diharapkan tidak hanya sifat penulisannya yang komprehensif tetapi juga sistematis untuk menjamin kualitas produk tulisan.