Setjen Wantannnas, Unsoed bersama Bekraf Dukung Pengembangan Ekonomi Kreatif

Setjen Wantannas bekerjasama dengan Universitas Jenderal Soedirman/Unsoed bersama Badan Ekonomi Kreatif/Bekraf menggelar Seminar dan Lokakarya Nasional/Semilokanas yang bertempat di Aula Unsoed pada tanggal 17 Mei 2016. Semilokanas yang bertajuk “Kajian Pengembangan Ekonomi Kreatif Guna Meningkatkan Daya Saing Daerah Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN” tersebut diselenggarakan di Lantai 3 Gedung Roedhiro Unsoed. Hadir sekaligus memberikan sambutan pada kegiatan tersebut yaitu Rektor Unsoed, Dr.Ir.Achmad Iqbal,M.Si, Sesjen Wantannas yang diwakili oleh Deputi Sistem Nasional, Mayjen TNI Dr.Drs.Tahan SL Toruan,MM,D.SS, Kepala Badan Ekonomi Kreatif yang diwakili oleh Deputi Bidang Riset, Edukasi dan Pengembangan, Dr.Ing.AR Boy Berawi, Gubernur Jawa Tengah yang diwakili oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Ratna Kawuri,SH,MM. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Bupati Banyumas, Ir.Achmad Husein, Kasdam Pangdam IV/Diponegoro, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah, Danrem 071/WK, Danlanal Cilacap, Kapolres Banyumas, Civitas Akademik Unsoed, para Akademisi, para Birokrasi, serta para pelaku usaha di lingkungan eks Karesidenan Banyumas.

Rektor Unsoed dalam sambutannya menyampaikan bahwa dihadapkan pada tantangan masa depan yang semakin kompetitif, Unsoed bertransformasi menjadi salah satu dari 10 besar PTN terfavorit di Indonesia. Hal tersebut ditunjukan dari tingkat kompetisi seleksi masuk Unsoed berada peringkat lima nasional. Solusi dari persaingan yang kompetitif tersebut dibutuhkan sumberdaya yang cerdas dan memerlukan cara pandang yang visioner dan pola pikir yang kreatif dalam menjawab tantang masyarakat. Meskipun saat ini terdapat banyak SDA, namun SDM yang ada belum banyak memberikan sentuhan teknologi yang sesuai sehingga belum dapat memberikan nilai tambah yang strategis. Berlakunya MEA merupakan peluang dan kesempatan emas yang harus dihadapi dengan kerja keras, sinergi dan kolaborasi semua pihak serta mengedepankan budaya kreatif, inovatif dan kompetitif. Lebih lanjut Rektor menyampaikan bahwa Unsoed mendukung pengembangan ekonomi kreatif sebagaimana komitmennya sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada pengembangan sumberdaya perdesaan berkelanjutan, serta penggalian dan pemanfaatan kearifan lokal.

Gubernur Jateng yang diwakili oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam sambutannya menyampaikan bahwa kata kunci keberhasilan menghadapi MEA adalah sikap optimis, percaya diri sambil terus menata diri dihadapkan pada potensi yang dimiliki, terlebih Jawa Tengah mempunyai banyak produk kreatif yang dihasilkan masyarakat dengan ciri dan keunikannya masing-masing. “Meski hampir semua daerah di Jawa Tengah punya batik, tetapi ada ciri khas dan karakter yang menjadi brand masing-masing wilayah, misalnya Lasem dengan kekuatan dan eksotika warnanya, Solo dengan keklasikan coraknya, serta Pekalongan dengan elegansi motifnya, belum lagi industri kreatif lainnya melalui pengembangan one village one product” tutur Ratna Kawuri,SH,MM. Di akhir sambutannya Kadis Perindag mengatakan “Kita ingin integrasi bangsa ini di MEA menjadi peluang untuk menjadi pemenang demi perwujudan kedaulatan dan ketahanan nasional serta kesejahteraan anak-anak negeri.”

Sementara itu dalam mengawali sambutannya Sesjen Wantannas yang diwakili oleh Deputi Sisnas menyampaikan bahwa pemilihan Unsoed yang berada di Kota Purwokerto tak lepas dari peran Kota Purwokerto yang memiliki nilai-nilai sejarah. Lebih lanjut Deputi Sisnas mengatakan bahwa pemberlakuan MEA dapat dimaknai sebagai harapan akan prospek dan peluang bagi kerjasama ekonomi antar kawasan dalam skala yang lebih luas, melalui integrasi ekonomi regional kawasan Asia Tenggara. Dengan hadirnya MEA, Indonesia sejatinya memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan dengan meningkatkan skala ekonomi aggregate, sebagai dasar untuk memperoleh keuntungan, dengan menjadikannya sebagai sebuah momentum untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Namun sebaliknya, pemberlakuan MEA akan dapat menjadikan kita sebagai konsumer, yang ditandai dengan hanya menjadi pasar impor apabila tanpa persiapan yang matang dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi dan daya saing. Terkait dengan ekonomi kreatif, Deputi Sisnas mengatakan “Konsep ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari SDM sebagai faktor produksi utama”.

Kepala Bekraf yang diwakili oleh Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan sebagai Keynote Speaker menyampaikan bahwa gelombang perekonomian dunia setidaknya mempunyai empat tahapan yaitu gelombang ekonomi pertanian/agricultural, gelombang ekonomi industri, gelombang ekonomi informasi dan gelombang ekonomi kreatif. “Namun kreativitas tidak hanya terbatas pada karya berbasis seni dan budaya tapi juga karya berbasis iptek, engineering, inovasi dan IT” ujarnya. Deputi menambahkan bahwa ekonomi kreatif menjadi sangat penting karena merupakan sumberdaya terbarukan. Semakin besar eksploitasi semakin tinggi nilai ekonomi. Ekonomi kreatif juga menciptakan iklim bisnis, beririsan dgn pariwisata, dunia teknologi informasi, konstruksi serta meningkatkan perekonomian nasional. Menurut data BPS, ekonomi kreatif merupakan penyumbang PDB dengan konstribusi 642 triliun atau sebesar 7,05% terhadap total PDB nasional. Disamping itu merupakan sektor ke empat terbesar dalam hal penyerapan tenaga kerja dengan konstribusi terhadap tenaga kerja nasional sebesar 10,7% atau sekira 11,8 juta orang. Selanjutnya disampaikan mengenai empat prinsip pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia yaitu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan literasi mengenai pola pikir design/design thinking, pelestarian seni dan budaya sebagai inspirasi serta pengembangan dan pemanfaatan media sebagai saluran distribusi dan presentasi karya dan konten kreatif.

Kegiatan selanjutnya yaitu pemaparan hasil penelitian yang dipandu oleh Moderator Dr.Margani Pinasti,M.Si. Paparan disampaikan oleh Tim Peneliti yaitu Prof.Dr.Agus Suroso, Prof.Dr.Suliyanto,MM, Dr.Pramono Hariadi,MS, dan Refius P Setyanto,SE,M.Sc.  Prof.Dr.Agus Suroso mengatakan bahwa fokus kajian ini untuk menilai kinerja pelaku industri kreatif dengan unit of analisis se-eks Karesidenan Banyumas dari perspektif ketersediaan sumberdaya kreatif, pemasaran, kelembagaan, pembiayaan, infrastruktur dan teknologi serta pengetahuan bisnis internasional. Beberapa point penting dalam hasil penelitian yaitu perkembangan ekonomi kreatif di eks Karesidenan Banyumas didominasi oleh beberapa sub sektor yang berdaya saing tinggi. Industri tersebut terdiri dari industri batik dan olahan gula kelapa-gula cair dan gula semut- di Kabupaten Banyumasi, industri knalpot kendaraan bermotor dan rambut palsu di Kabupaten Purbalingga, kerajinan keramik, olahan makanan minuman khas Carica dan olahan berbasis salak serta sebutret-serat sabut kelapa berkaret- dan produk turunannya di Kabupaten Banjarnegara serta batik Cilacap di Kabupaten Cilacap. Namun demikian, sebagian besar pelaku ekonomi kreatif belum memperhatikan branding dan komunikasi pemasaran yang terintegrasi, dan wawasan bisnis internasional yang masih lemah.

Pemaparan hasil penelitian tersebut kemudian ditanggapi oleh Tim Penanggap yaitu Haryo B Rachmadi,SE,M.Si(Han), Dr.Rawuh Edy P,MS, Dr.Adi Indrayanto,M.Sc dan Ir.Eko Priyanto,MT. Setelah sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung, selanjutnya Deputi Sisnas menutup acara Semiloka Nasional dengan terlebih dahulu menyampaikan pidato penutupan. Kegiatan dilanjutkan oleh Tim Perumus Setjen Wantannas dan Tim Peneliti Unsoed yang berlangsung sampai dengan tanggal 18 Mei 2016.