Sesjen Wantannas : HGSL adalah Kunci Tingkatkan Iklim Investasi

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Letjen TNI M. Munir mengajak seluruh elemen dan stakeholder terkait untuk meningkatkan iklim investasi di Kota Bogor. Salah satu caranya adalah dengan HGSL yang merupakan kepanjangan dari Hapus Gabung Sederhanakan dan Limpahkan. HGSL dimaksud adalah terkait dengan penyederhanaan administrasi proses perizinan.

Demikian ungkap Sesjen Wantannas saat menjadi pembicara pada acara Coffee Morning bersama Walikota Bogor Dr.Bima Arya dan Kakanwil Direktorat Bea dan Cukai Provinsi Jawa Barat Purwantoro, di Aula Lt.3 Kantor Pusat Bea dan Cukai Bogor, Jl. Pajajaran Kota Bogor, Senin 30 Mei 2016. Kegiatan dengan tema Meningkatkan Komunikasi dan Koordinasi Lintas Instansi dalam rangka Mendorong Rasa Aman Berinvestasi, diselenggarakan oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean A – KPPBC TMP A, Kota Bogor. Kegiatan Coffee Morning yang secara resmi dibuka oleh Kakanwil DJBC Jawa Barat tersebut membahas banyaknya faktor yang menghambat iklim investasi di Indonesia. Padahal Indonesia masuk menjadi anggota G-20.

Menyampaikan sambutan pembukaan, Kakanwil DJBC Jawa Barat, Purwantoro menegaskan kembali tentang latar belakang arahan Presiden untuk meningkatkan perekonomian Indonesia yang menyerap tenaga kerja, salah satunya melalui pembentukan Pusat Logistik Berikat (PLB). Karena itu  perlu adanya sinergi dengan instansi terkait dan ini akan  memacu bea cukai untuk menjalankan tugas dan fungsinya terutama menyambut era yang serba cepat saat ini. “Harapan kami, sinergisitas semua instansi dalam rangka mewujudkan harapan nasional bisa tercapai.”

Sesjen Wantannas dalam sambutannya mengatakan beberapa persoalan yang timbul terkait investasi diantaranya adalah biaya logistik yang tinggi, infrastruktur yang belum merata, regulasi yang masih tumpang tindih, profesionalisme tenaga kerja, pajak dan lain-lain. Lebih lanjut Sesjen mengatakan “Hapus regulasi yang berbelit-belit dan menyulitkan pengusaha, gabungkan aturan tersebut untuk disederhanakan. Perkuat komunikasi, koordinasi, kolaborasi dan sinergitas dari lintas instansi sehingga tidak ada lagi peraturan yang tidak mendukung investasi. Selanjutnya limpahkan untuk didesentralisasikan, yang penting aturannya jelas”.

Menurut Sesjen Wantannas, untuk meningkatkan iklim investasi, pemerintah sudah menerapkan kebijakaan paket ekonomi. Sesjen menjelaskan, secara nasional ada 3000 perda yang perlu dipangkas untuk meningkatkan iklim investasi. Seperti yang diamanatkan oleh Presiden RI, regulasi akan dipermudah. “Saat ini bangsa Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN /MEA yang merupakan tantangan bagi para tenaga kerja Indonesia untuk lebih meningkatkan kompetensinya sehingga mampu bersaing dengan negara lain.” lanjutnya.

Sementara itu Walikota Bogor Bima Arya menjelaskan, berdasarkan data Bank Dunia, Indonesia berada di peringkat 109 dari 189 negara yang memiliki komitmen dalam kemudahan berusaha. Tahun ini Indonesia ditargetkan untuk masuk ke dalam 40 besar. “Satu target ambisius,” ujar pria asli Bogor tersebut.

Menurut Doktor Ilmu Politik, lulusan Australian National University Canberra tersebut, terdapat dua hal yang membuat kemudahan bagi perkembangan investasi, yaitu teknis dan substantif. Terkait teknis, Kota Bogor sudah merampungkan regulasi dan prosedur agar lebih sederhana, dan memiliki kejelasan dan kepastian. “Kota Bogor telah menerapkan birokrasi yang lebih pasti, perizinan dilakukan dalam satu atap dan satu pintu,” jelasnya.

Sedangkan untuk faktor substantif, Dosen Universitas Paramadina tersebut menekankan bagaimana menempatkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan. Bima Arya menggaris bawahi pentingnya membangun keyakinan kepentingan banyak orang di atas kepentingan pribadi dan golongan. Walikota Bogor lebih jauh mengatakan “Ini menjadi hal utama sebelum teknis. Yang membuat kapal tenggelam adalah karena biduk itu salah arah walaupun banyak diisi orang pintar, contohnya tenggelamnya kapal Titanic. Jangan sampai bangsa Indonesia seperti hal itu. Kita harus bersatu, saling mendorong dan menolong. Kunci utamanya saling kepercayaan dan kebersamaan”.