Setjen Wantannas Bersama Unsrat Selenggarakan Kajian tentang Peningkatan Kesejahteraan Nelayan Pesisir

Setjen Wantannas bersama dengan Universitas Sam Ratulangi/Unsrat menggelar Seminar dan Lokakarya Nasional/Semilokanas yang bertempat di Hotel Novotel Manado pada tanggal 19 Juli 2016. Semilokanas yang bertajuk “Peningkatan Kesejahteraan Nelayan Pesisir dalam rangka Membangun Indonesia dari Penggiran” tersebut dibuka secara resmi oleh Sesjen Wantannas, Letjen TNI M.Munir bersama Rektor Unsrat, Prof.Dr.Ir.Ellen Joan Kumaat, M.Sc,DEA. Acara tersebut juga ikut dihadiri oleh Wakil Bupati Bolaang Mongondow Selatan, Danrem 131/Santiago, Wakapolda Sulut, Wadan Lantamal VIII, perwakilan Danlanud Sam Ratulangi, para Birokrasi di wilayah Provinsi Sulut, para kelompok nelayan, para Civitas Akademi Unsrat dan segenap Mahasiswa.

“Dengan wilayah laut yang luas, serta potensi sumberdaya pesisir yang menjadi incaran dunia, sudah sepantasnya Indonesia secara berdaulat pula mengelola semua itu dengan manfaat yang menyentuh segenap lapisan masyarakat”, demikian disampaikan Rektor Unsrat mengawali sambutannya. Selanjutnya Rektor Unsrat menyampaikan bahwa hamparan pesisir yang terbentang dari Sabang sampai Merauke benar-benar membutuhkan pendekatan pengelolaan secara terpadu, profesional dan berkelanjutan. “Prinsip kebersamaan dan azas keadilan sosial perlu terus dihidupkan agar kepentingan masyarakat kecil, khususnya penduduk pesisir pantai tidak lagi termarjinalkan” sambung wanita yang menyelesaikan program S3 nya di Institut National des Sciences Appliquees de Toulouse, Perancis tersebut.

Sesjen Wantannas dalam sambutannya setelah menerangkan secara sekilas tentang organisasi Setjen Wantannas, menyampaikan bahwa upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan sejalan dengan adanya visi pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, dimana salah satu pilarnya yaitu komitmen menjaga dan mengelola sumber daya laut melalui pengembangan industri perikanan dengan menempatkan nelayan sebagai pilar utama. “Dengan menempatkan nelayan sebagai pilar utama, maka momentum ini harus menjadi pendorong dalam upaya peningkatan kesejahteraan nelayan”, demikian papar Sesjen. Lebih jauh Sesjen menyampaikan bahwa pemerintah saat ini berasumsi daerah pinggiran perlu mendapat intervensi pembangunan sebab daerah tersebut relatif tertinggal, kehidupan ekonomi nelayan yang belum berkembang tetapi memiliki potensi sumberdaya perikanan, sebagaimana di Sulut ini. “Intervensi pemerintah bertujuan untuk mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah dan mengurangi kemiskinan melalui pemanfaatan sumberdaya perikanan” ujar Sesjen.

Kegiatan selanjutnya yaitu pemaparan hasil penelitian dan diskusi yang dipandu oleh Dr.Ir. Johnny Budiman, M.Si, M.Sc sebagai moderator. Pemaparan hasil penelitian disampaikan oleh Prof. D .Ir .Grevo S. Gerung, M.Sc. Mengawali paparannya Prof. Grevo menyampaikan tentang RPJP 2005-2025 bahwa misi pembangunan nasional dimana salah satunya adalah terwujudnya Indonesia sebagai negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional serta RPJMN 2015-2019 dimana salah satunya adalah meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia yang berwawasan kelautan. Masih dalam paparannya, Prof.Grevo menjelaskan beberapa kondisi tentang nelayan Indonesia yaitu masih rendahnya pendapatan nelayan, masih rendahnya penguasaan keterampilan nelayan, mentalitas yang sulit berubah, masih terbatasnya akses nelayan terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan serta masih terdapat regulasi dan implementasi yang belum berpihak kepada nelayan dalam peningkatan kesejahteraan.

Hasil Penelitian Tim Unsrat tersebut kemudian ditanggapi oleh para pembahas yaitu Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto, MT, Prof.Dr.Anderson G Kumenaung,M.Si dan Dr.Ir.Gybert E Mamuaya,DAA. Para peserta cukup antusias dalam menyampaikan masukan, tanggapan atau pertanyaan, beberapa diantaranya disampaikan oleh Direktur Kenelayanan Ditjen Perikanan Tangkap KKP, Wakil Bupati Bolaang Mongondow Selatan, Akademisi Institut Teknologi Tomohon, Direktur Politeknik Nusa Utara, Dosen Unsrat serta Mahasiswa Unsrat. Setelah acara selesai, kegiatan dilanjutkan oleh Tim Perumus Setjen Wantannas dan Tim Peneliti Unsrat bersama narasumber di lingkungan pemerintah Prov.Sulut yang berlangsung sampai dengan tanggal 20 Juli 2016.