Sesjen Wantannas : Energi Nuklir Dalam Rangka Ketahanan Nasional

Badan Tenaga Nuklir Nasional menyelenggarakan seminar nasional nuklir bertemakan Peranan Energi Nuklir dalam Pengembangan Industri Nasional dan Peningkatan Kapasitas SDM, pada tanggal 4-5 Agustus 2016 di auditorium Politeknik Negeri Batam.

Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, tujuan kegiatan ini, satu diantaranya untuk mensosialisasikan kepada masyarakat, bahwa kedepan energi nuklir menjadi satu diantara energi baru dan terbarukan, yang bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Tidak hanya itu, energi nuklir juga bisa dimanfaatkan untuk beberapa bidang lainnya. Satu contohnya untuk pertanian.

Energi nuklir dinilai menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk jangka panjang. Terlebih tenaga nuklir terbesar bisa didapat dari energi matahari. “Jadi tidak perlu takut lagi dengan nuklir. Karena nuklir ini banyak manfaatnya untuk kehidupan,” katanya.

Di negara-negara modern di dunia, penerapan energi nuklir malah sudah banyak yang memanfaatkan. Sedikitnya ada 440 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir/PLTN, dengan 31 negara yang sudah menerapkan, dan 65 negara lain sedang membangun konstruksinya.

Terkait pembangunan PLTN untuk Indonesia sendiri, kata dia, saat ini pihaknya sudah merekomendasikan Bangka sebagai tempat yang layak untuk pembangunan PLTN. Bangka dinilai sebagai daerah yang aman untuk pembangunan PLTN. Begitu pun Batam, Kepri, dan beberapa daerah di Kalimantan. Lantaran tidak berada di daerah lempengan api.

Djarot mengatakan, pihaknya dan BP Batam beberapa waktu lalu sudah melakukan kerjasama untuk rencana pembangunan PLTN di Batam. Itu mengingat kebutuhan listrik di Batam, baik untuk industri dan rumah tangga yang cukup besar.

“Kami sudah kerjasama dengan BP Batam, tapi masih sebatas kajian awal. Jadi belum bisa ditentukan dimana lokasi pembangunan PLTN-nya. Belum ada opsi-opsi juga. Sekarang masih kumpulkan data-data sekunder,” ujar Djarot.

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Letjen TNI M Munir, menanggapi positif pemanfaatan energi nuklir ini bagi kehidupan manusia untuk jangka panjang. Dalam paparannya yang berjudul Energi Nuklir dalam rangka Ketahanan Nasional, Sesjen menyampaikan bahwa energi nuklir saat ini sudah dilakukan pengembangan hingga generasi ke-empat. “Energi nuklir yang sekarang ini sudah generasi ke empat. Jadi tidak perlu takut dampaknya. Karena tentunya penanganan-penanganan terkait kecelakannya juga sudah dibuat,” demikian ujar Sesjen Wantannas.

Sesjen Wantannas menjelaskan bahwa energi nuklir menjadi kebutuhan penting di dunia maupun Indonesia saat ini. Dengan kondisi Indonesia saat ini jika dilihat dari Sumber Daya Manusia dan infrastrukturnya, potensi Indonesia dinilai cukup besar.

“Hanya saja potensi ini belum diberdayakan secara optimal,” ungkap Sesjen. Untuk itu, dia menegaskan, pemberdayaan hal tersebut perlu terus digodok ke depannya. Berdasarkan situasi dan kondisi saat ini, Letjen Munir mengungkapkan, masyarakat di era kini tidak lepas dari kebutuhan energi. Kondisi dan situasi ini sudah dipahami benar oleh masyarakat.

Sampai saat ini, Sesjen melanjutkan, masyarakat sangat bergantung dengan energi berbahan fosil. Padahal bahan-bahan ini akan habis pada masanya meski belum diketahui kapan tepatnya akan terjadi. “Memang ada yang lain seperti energi matahari, angin dan sebagainya. Namun kita sebenarnya punya potensi Sumber Daya Alam/SDA lebih baik seperti nuklir,” katanya.

Menurut Sesjen, pengembangan nuklir memang membutuhkan keahlian Sumber Daya Manusia berkualitas. Dia mencontohkan, Jepang, Jerman dan Amerika tidak sembarangan merekrut tenaga nuklir. Mereka akan memilih SDM dari lulusan yang mumpuni dalam bidangnya. “Dan saya rasa Indonesia sudah memiliki potensinya,” tambahnya.