Rombongan Setjen Wantannas Selenggarakan Kajida ke Banyuwangi

Rombongan Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Setjen Wantannas) melakukan Pengkajian Daerah (Kajida) mengenai interkonektivitas pertambangan dan pariwisata di Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, pada hari Kamis, 1 September 2016.. Kedatangan Tim Setjen Wantannas diterima langsung Wakil Bupati Yusuf Widiatmoko di Ruang Rempeg Jogopati Pemkab Banyuwangi.

Adapun rombongan Tim Kajida Setjen Wantannas yang melakukan kunjungan kerja (kunker) di Banyuwangi terdiri dari; Sekretaris Jenderal Wantannas Letjen TNI M Munir, Deputi Pengkajian dan Penginderaan (Jiandra) Laksda TNI Dr. Eko Djalmo Asmadi, Staf Ahli Bidang Ekonomi Irjen Pol Drs. Bambang Hermanu,SH,MM dan Staf Ahli Bidang Hukum Dr. Mohammad Ghazalie. Selain itu, ikut pula para Analisis Kebijakan di Kedeputian Jiandra yaitu Kolonel Cku Ngadiman,MM, Kolonel Sus Agus Suharto,S.IP,MM, dan Ir.Hadian Ananta Wardhana,CES.

Sesjen Wantannas Letjen TNI M. Munir mengatakan, kedatangannya dalam kunker ini adalah untuk menggali dan menghimpun pelbagai permasalan di Banyuwangi. Temasuk yang terkait dengan peningkatan pariwisata daerah untuk mendongkrak perekonomian masyarakat Banyuwangi. “Berbagai permasalahan yang kami tampung dari sini, kami akomodir dan analisis terlebih dahulu. Selanjutnya, akan kami teruskan kepada presiden untuk mencari solusinya,” demikian kata Sesjen Wantannas.

Sesjen Wantannas menyampaikan bahwa pihaknya telah menyerap sejumlah permasalahan yang dihadapi Pemkab Banyuwangi. Namun, di banding dengan yang ditemukan di daerah lain, permasalahan-permasalah di Banyuwangi tergolong cukup ringan. “Di Banyuwangi tidak ada permasalahan yang krusial. Bahkan saya lihat, dengan kreativitas, Banyuwangi telah sukses mencari celah untuk mengatasi persoalannya. Kesejahteraan masyarakatnya pun terus membaik,” ungkapnya.

Hal itu dibuktikan dari pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita di Banyuwangi yang terus meningkat. “Serta adanya penurunan angka kemiskinan yang signifikan dalam kurun lima tahun terakhir ini di Banyuwangi,” sambungnya.

Letjen TNI Munir juga menilai kondisi kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini cukup aman. Kondisi seperti inilah, yang menurut dia sangat diperlukan untuk keberhasilan pembangunan daerah. “Artinya apa? Yang sudah dilakukan Pemkab Banyuwangi sudah pada track-nya. Tinggal melanjutkan apa yang sudah baik dan terus berinovasi untuk merebut peluang-peluang pariwisata. Karena ke depan, sektor inilah yang diprediksi mampu mendorong perekonomian warga,” papar Sesjen.

Sementara Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widiatmoko mengatakan, saat ini sektor pariwisata menjadi salah satu unggulan pembangunan di Tanah Blambangan. Dia juga menjelaskan alasan daerahnya memilih mengembangkan konsep ecoturisme di sektor wisata. “Banyuwangi itu khas. 40 Persen wilayah kami terdiri dari taman nasional, perkebunan dan kehutanan,” kata Yusuf.

Karena itu, masih kata dia, pihaknya memutuskan sektor pariwisata di Banyuwangi harus dikembangkan dengan konsep ecotourism. Pariwisata yang berbasis atas keaslian alam dan pengembangannya juga selaras dengan alamnya,” sambung politisi asal PDIP ini.

Pilihan ini ternyata tepat. Konsep ecotourism akhirnya membuahkan hasil. Bahkan beberapa duta besar mulai melirik Banyuwangi. “Kami tak akan pernah berhenti mengembangkan pariwisata Banyuwangi, termasuk menjadikan sektor pertanian sebagai wisata yang juga perlu di-explore.”

Menurut Yusuf, pendidikan juga menjadi bagian program pengembangan wisata. Sebab, dengan pendidikan akan mampu mencetak SDM yang mumpuni dan bisa mengembangkan pariwisata menjadi lebih baik.

Saat ini, kunjungan wisata di Banyuwangi menunjukkan perkembangan yang positif. Di tahun 2010, kunjungan wisata naik 161 persen dari 651.500 turis menjadi 1,7 juta orang di Tahun 2015. Lonjakan juga terjadi pada jumlah penumpang di Bandara Blimbingsari. Dari hanya 7.826 penumpang di 2011, naik menjadi 110.234 penumpang di Tahun 2015. “Peningkatan ini mencapai 1.308 persen,” pungkas Wabup Banyuwangi.