SETJEN WANTANNAS SELENGGARAKAN RAMUSMAT, 20 OKTOBER 2016

Kamis, 20 Oktober 2016, bertempat di Hotel Sunlake, Sunter Jakarta dilaksanakan kegiatan Rapat Perumusan Materi (Ramusmat) yang dipimpin oleh Sesjen Wantannas, Mayjen TNI Nugroho Widyotomo. Hadir pada kesempatan tersebut para Deputi, para Sahli, para Bandep, para Anjak serta para pakar dan narasumber.

Pada kesempatan tersebut dipaparkan tiga judul bahasan strategis yaitu : 1) Antisipasi dan Solusi Dampak Pembatalan Perda dalam Kerangka Sistem Hubungan Pusat dan Daerah Guna Memperkuat Ketahanan Nasional; 2) Peningkatan Peran Diaspora Dalam Percepatan Pembangunan Nasional; dan 3) Penguatan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (KPBPB Batam).

Dr. Yadi Ruyadi, M.Si, Akademisi dari UPI pertama kali menyampaikan paparannya tentang dampak pembatalan Perda. Menurutnya saat ini terdapat persepsi yang berbeda dari elit daerah yang memahami keberhasilan otonomi hanya dilihat dari tinggi rendahnya PAD. Oleh karena itu daerah membuat Perda pungutan yang menimbulkan ekonomi biaya tinggi, mempersulit proses perizinan, memperlambat iklim usaha, dan akibatnya menurunkan tingkat investasi daerah. “Kondisi inilah yang mendorong pemerintah mengambil langkah untuk membatalkan Perda yang bermasalah” ujar pria asli Bandung tersebut. Dr. Yadi melanjutkan bahwa strategi yang dapat ditempuh adalah mensinkronkan kerangka kebijakan terkait dengan pembentukan produk hukum daerah dan mengoptimalkan koordinasi, pembinaan dan pengawasan produk hukum daerah oleh pemerintah pusat.

Sementara itu Meta Sukma dari Indonesian Diaspora Network menyampaikan paparan mengenai peran diaspora. Menurutnya potensi diaspora Indonesia belum terstruktur dalam database. “Jumlah, penyebaran, profesi, dan kualitas diaspora Indonesia masih belum terpetakan dengan baik, meskipun daya saing diaspora dalam iklim global tidak diragukan lagi” ujarnya. Masih dalam paparannya, Meta Sukma juga menyampaikan gagasannya mengenai penerbitan kartu diaspora disertai dengan fasilitas atau kemudahan seperti pendirian badan usaha, kepemilikan property, izin tinggal, pembukaan rekening bank, dll. Meta melanjutkan bahwa perlunya wadah yang memadai sebagai akses para diaspora untuk berperan dalam pembangunan Indonesia. Adapun strategi yang dapat ditempuh adalah mempercepat pendataan diaspora Indonesia secara akurat dan menyempurnakan regulasi yang memayungi kegiatan atau peran diaspora Indonesia.

Paparan terakhir disampaikan oleh Dr.Arifien Habibie,MS tentang penguatan KPBPB Batam. Mantan Staf Ahli Kemenko Perekonomian tersebut menyampaikan bahwa Batam mempunyai keunggulan kompetitif dengan letak geo strategis dalam lalu lintas perdagangan internasional. Selanjutnya Dr.Arifien mengurai beberapa identifikasi masalah yaitu pelayanan kepada publik maupun investor belum optimal, insentif kepada investor tidak kompetitif, kepastian usaha dan upaya reindustrialisasi tidak terjamin dan fasilitas infrastruktur untuk global value chain belum memadai. Namun demikian, Batam memiliki beberapa faktor kekuatan “konsep maritime silk routedari Tiongkok, konsistensi politik pemerintah, letak Batam yang strategis, upah yang kompetitif, dan pengalaman sebagai kawasan industri selama 45 tahun” ujar Direksi PT. Len Industri tersebut. Masih dalam paparannya, Dr. Arifien menyampaikan beberapa strategi yang disampaikan yaitu meningkatkan harmonisasi regulasi, meningkatkan infrastruktur dan fasilitas wilayah serta meningkatkan pengawasan dan koordinasi impelementasi.

Setelah sesi diskusi dan tanya jawab yang dipandu oleh Moderator, Deputi Jiandra, Laksda TNI Dr. Ir. Eko Djalmo Asmadi, MH, Sesjen Wantannas, Mayjen TNI Nugroho Widyotomo memberikan arahan dan masukan terkait dengan penyempurnaan kajian. Sesjen menyampaikan bahwa dilihat dari judulnya, konteks pembatalan Perda adalah untuk memperkuat ketahanan nasional, adapun tujuan otonomi daerah yaitu untuk mensejahterakan masyarakatnya. Sesjen melanjutkan bahwa perlu ditingkatkan sinergitas, sinkronisasi dan harmonisasi, ketiganya tergantung pada koordinasi. Sesjen melanjutkan, “Apakah setelah Perda dicabut berdampak pada daerah? Apakah iklim investasi menjadi naik? Apakah berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi?”. Diperlukan solusi yang komprehensif agar pembatalan Perda tidak melemahkan hubungan pusat dan daerah tetapi menguatkan cita-cita dan tujuan berbangsa serta bernegara.

Terkait dengan diaspora, Sesjen menyampaikan bahwa China negara yang berpenduduk 1 milyar lebih mempunyai konsep menyebarkan penduduknya ke seluruh dunia. Terbukti bahwa etnis China hampir ada di seluruh negara di dunia. Sesjen melanjutkan bahwa terdapat satu buku menarik dengan judul China’s Silent Armyyang menggambarkan bagaimana warga China bisa bekerja di seluruh dunia. “Bisakah kita mempunyai konsep diaspora seperti China”? tanya Sesjen.