Setjen Wantannas Selenggarakan Bakohumas Bahas Penyelamatan Generasi Muda dari Narkoba

Rabu, 26 Oktober 2016 bertempat di Aula R.A Kartini, Lt.11 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak diselenggarakan pertemuan tematik Bakohumas dengan tema Penyelamatan Generasi Muda dari Penyalahgunaan Narkoba dalam rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Setjen Wantannas bekerjasama dengan sekretariat Bakohumas Pusat. Hadir memberikan sambutan, Sesjen Wantannas yang dalam hal ini diwakili oleh Staf Ahli Hankam, Mayjen TNI Nana Rohana, SE dan Dirjen IKP Kemenkominfo yang diwakili oleh Direktur Pengolahan dan Penyediaan Informasi, Siti Maeningsih, M.Si. Kegiatan tersebut juga dihadiri para pejabat Setjen Wantannas, para Staf Humas di setiap K/L dan undangan lainnya.

Brigjen TNI Firman Achmadi,SE selaku Ketua Pelaksana dalam laporan pelaksanaannya menyampaikan bahwa maksud dan tujuan kegiatan forum bakohumas adalah sebagai sarana meningkatkan peran kehumasan Setjen Wantannas bersama anggota kehumasan Kementerian/Lembaga dalam mendukung dan mempublikasikan program, rencana, dan capaian kerja pemerintah yang pada gilirannya dapat membangun opini dan citra positif pemerintah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selanjutnya Staf Ahli Hankam, Mayjen TNI Nana Rohana, SE dalam mengawali sambutannya menyampaikan bahwa ketika Presiden Joko Widodo menghadiri peringatan Hari Anti Narkotika Nasional menyampaikan bahwa jumlah pengguna narkoba terus meningkat, angka prevalansi pengguna narkoba mencapai 5,1 juta orang dan angka kematian akibat penggunaan narkoba mencapai sekitar 40 sampai 50 orang per hari, ditambah kerugian material yang diperkirakan sejumlah Rp. 63 Triliun. Staf Ahli Hankam melanjutkan “Perlu tindakan-tindakan konkrit dan nyata. Presiden menginstruksikan kepada seluruh K/L, LSM, dan masyarakat untuk bersinergi dan melakukan langkah-langkah terpadu dan progresif untuk melawan narkoba.”

Kemudian Direktur Pengolahan dan Penyediaan Informasi, Siti Maeningsih, M.Si mengatakan bahwa narkoba adalah ancaman serius bagi generasi remaja. “Dari total pengguna narkoba sejumlah 5,1 juta orang, 30 persen-nya adalah generasi muda” paparnya. Masih dalam sambutannya, Siti Maeningsih mengharapkan Staf Humas di setiap K/L untuk secara simultan dan intensif mendiseminasikan capaian pemerintah selama 2 tahun. Sebab Humas adalah mata, telinga, dan suara dari organisasi. Sudah seharusnya Humas menjadi garda paling depan untuk menjembatani komunikasi antara instansi pemerintah dengan masyarakat guna tercipta hubungan yang harmonis.

Memasuki sesi pemaparan materi, Ir. Muhammad Iqbal, M.Sc menyampaikan bahwa narkoba bukan hanya sebagai national concern tapi sudah jadi global problem. ”Meskipun kita telah memiliki UU No. 35 tahun 2009 tetapi kasus narkoba cenderung meningkat” paparnya. Terdapat beberapa identifikasi masalah narkoba yaitu kapasitas SDM terkait penguasaan materi pencegahan narkoba masih terbatas (profesionalisme, integritas moral, dan komitmen) berikut rasio jumlah aparat dengan wilayah dan populasi dan gaya hidup generasi muda yang serba instant dan hedonis serta daya tarik bisnis narkoba yang bernilai tinggi serta kuatnya sindikat narkoba internasional yang terstruktur, sistematis, dan masif. Iqbal menerangkan bahwa posisi geografis negara Indonesia yang cukup luas dan terbuka dari segala arah serta kondisi demografis yang besar merupakan pasar potensial narkoba. Disamping itu perkembangan pariwisata dan hiburan secara tidak langsung mendorong hadirnya bisnis ilegal narkoba. Masih dalam paparannya, Iqbal menjelaskan bahwa beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan peran dan otoritas Tim Asesmen Terpadu, mempercepat pelaksanaan eksekusi bagi terpidana mati yang sudah inkracht, meningkatkan koordinasi, integrasi, dan sinergi K/L dalam P4GN, meningkatkan peran BNN Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam P4GN di daerah dan meningkatkan direktif secara tegas kepada pemerintah daerah untuk menyediakan dan menjalankan terapi rehabilitasi penyalahgunaan narkoba dalam sarana dan prasarana rehabilitasi medis yang sesuai standar.

Setelah sesi pemaparan selesai, dibuka sesi tanya jawab dan diskusi yang dipandu oleh moderator Kolonel Inf Frans Thomas. Peserta Bakohumas cukup antusias dalam menyampaikan pertanyaan dan masukannya, salah satunya yaitu Toni Saiful dari Bakamla yang menyampaikan bahwa kasus narkoba yang terungkap cenderung disandingkan dengan jumlah uang yang beredar, bukan disandingkan dengan potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan. Hal ini dapat menyebabkan masyarakat tergiur dengan bisnis narkoba. Beberapa pertanyaan yang disampaikan dapat direspon dengan baik oleh narasumber sampai dengan selesainya acara.