Setjen Wantannas Selenggarakan Sosialisasi tentang Pengendalian Gratifikasi

“Tembok besar China yang dibangun selama ratusan tahun dari Dinasti ke Dinasti dengan panjang 8000 Km lebih dan ketebalan 18 meter serta bangunan setinggi 16 meter tidak pernah dapat ditembus oleh serangan musuh. Namun faktanya tembok tersebut dapat disusupi oleh musuh gara-gara penjaganya menerima uang suap.” Demikian disampaikan oleh Direktur Gratifikasi KPK, Giri Suprapdiono ketika menjadi pembicara pada acara Sosialisasi Pengendalian Gratifikasi dan Pencegahan Tindak Pidana Korupsi di Lingkungan Setjen Wantannas.

Acara yang diselenggarakan oleh Unit Pengendalian Gratifikasi Setjen Wantannas tersebut bertempat di Ruang Nakula Lt.6 Gedung Kemenko Polhukam pada hari Jumat, 11 Nopember 2016. Hadir pada kesempatan tersebut para Deputi, para Sahli, para Bandep, para Anjak, dan seluruh pegawai Setjen Wantannas. Sesjen Wantannas yang diwakili oleh Deputi Pengembangan, Marsda TNI Khoirul Arifin, SE,MM dalam memberikan sambutannya menyampaikan bahwa terdapat 31 jenis tindakan korupsi yang dibagi menjadi 7 kelompok besar, salah satunya adalah gratifikasi. Gratifikasi berkembang karena adanya interaksi kepentingan. “Sosialisasi ini diperlukan sebagai salah satu upaya untuk merealisasikan prinsip-prinsip responbility, transparansi, dan akuntabilitas serta untuk mewujudkan good government dan clean governance.” tegas Deputi Pengembangan.

Giri Suprapdiono yang dilantik menjadi anggota KPK pada tahun 2012 dalam sosialisasinya menyampaikan bahwa perayaan Anti Korupsi tahun ini akan diselenggarakan di Provinsi Riau. “Kenapa Riau? Karena sampai saat ini 3 Gubernur Provinsi Riau secara berturut-turut masuk penjara karena korupsi.” Disamping itu Riau juga disinyalir sebagai rumah kedua bagi warga negara tetangga yang memiliki lahan sawit atau pertambangan minyak karena kekayaan sumber daya alam Provinsi Riau yang melimpah. Hal inilah yang mengakibatkan munculnya potensi-potensi korupsi di Riau.

Suasana sosialisasi begitu cair, Giri Suprapdiono cukup piawai menyampaikan materi sosialisasi mengenai gratifikasi. Dalam paparannya selain menyampaikan data statistik praktek-praktek korupsi juga menyampaikan film-film pendek, dan humor-humor segar. Selain itu dia juga melontarkan pertanyaan-pertanyaan, dimana setiap peserta yang dapat menjawabnya diberikan hadiah berupa kaos atau agenda kerja.

Masih dalam paparannya, Giri menegaskan bahwa gratifikasi merupakan salah satu yang mempengaruhi ketahanan nasional, dan salah satu kendalanya adalah krisis keteladanan. Keteladanan merupakan salah satu kunci dalam pencegahan tindak pidana korupsi khususnya gratifikasi. Giri lantas mencontohkan kisah Mahatma Gandi, seorang pemimpin spiritual dan tokoh penting dari India yang dapat memberikan keteladanan kepada masyarakatnya. Selain krisis keteladanan, hilangnya sikap apresiasi dan miskin tanggung jawab merupakan masalah tersendiri.

Peserta sosialisasi cukup antusias dalam menyimak paparannya, beberapa peserta menyampaikan pertanyaan terkait dengan gratifikasi. Sosialisasi mengenai gratifikasi merupakan salah satu kegiatan dalam mendukung program reformasi birokrasi khususnya di bidang Penguatan Pengawasan. Sosialisasi tersebut juga sebagai implementasi dari Keputusan Sesjen Wantannas Nomor 47 tahun 2014 tentang Pembentukan Unit Pengendalian Gratifikasi di Lingkungan Setjen Wantannas.