Setjen Wantannas Turut Berkontribusi pada Military Simulation,Training, and Education 2017 (MilSim 2017) di Singapura

Sesjen Wantannas, Letjen TNI Nugroho Widyotomo didampingi oleh Karo POK, Brigjen TNI Dr. Yudi Sutrasna Susena, M.B.A. dan Anjak Renkon Eko Depolstra, Kolonel Lek Dr. Arwin Datumaya Wahyudi Sumari, S.T., M.T., menghadiri konferensi dan eksebisi internasional, Military Simulation, Training, and Education 2017 (MilSim 2017) di Singapura pada tanggal 17-18 Januari 2017. Kehadiran Sesjen Wantannas dan Karo POK pada acara ini adalah untuk memenuhi undangan Rear Admiral Simon Williams OBE, selaku Chairman MilSim 2017, sedangkan Kolonel Lek Dr. Arwin Datumaya Wahyudi Sumari, S.T., M.T. selain sebagai bagian dari delegasi Setjen Wantannas juga sebagai Pembicara pada diskusi panel yang mengangkat tema “Exploring the threat of cyber warfare and how best to simulate it”.

MilSim 2017 adalah satu-satunya wahana di kawasan Asia-Pasifik yang menyediakan tempat bagi para profesional dan industri yang bergerak pada bidang simulasi, pelatihan dan pendidikan militer untuk berbagi pengalaman, pengetahuan dan teknik-teknik inovasi terkini. Pada bagian eksebisi ditampilkan beragam produk simulasi mulai dari peralatan militer hingga simulator Unmanned Aerial System (UAS) yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Pada kesempatan tersebut, Sesjen Wantannas memperoleh kesempatan untuk mencoba simulated weapon berupa Rocket Propelled Grenade (RPG) atau granat berpeluncur roket. Uji coba dilakukan dengan menembakkan RPG ke sasaran-sasaran berupa markas militer dan tank yang sedang bergerak.

Pada diskusi panel, Kolonel Lek Dr. Arwin Datumaya Wahyudi Sumari, S.T., M.T. bersama dengan 3 (tiga) Pembicara lainnya yakni Jonathan Dean, Senior Research Scientist, Cyber Situation Awareness Group, Defence Science & Technology Group Australia; Sathish Ashwin, Head – National Cyber Defence Research Centre, India; dan Anthony Lim, Director, Cloud Security Alliance, Singapura. Pada kesempatan tersebut Kolonel Lek Dr. Arwin menyampaikan pendapat bahwa ancaman dari cyberspace dapat ditinjau dari dua perspektif yakni yang mengancam pertahanan negara disebut dengan cyber warfare, dan yang mengancam keamanan publik yang disebut dengan cybercrime. Kedua ancaman tersebut harus dihadapi dengan langkah tindak (measure) yang disebut dengan cybersecurity. Dalam perspektif pertahanan negara berdasarkan teori Five Rings dari John Warden III, untuk mengalahkan sebuah negara, dimasa lalu aktor menerapkan penaklukan Center of Gravity (CoG) musuh secara sekuensial atau satu persatu mulai dari instalasi militer hingga pucuk pimpinan negara. Dengan adanya cyberspace, penaklukan sebuah negara dapat dilakukan secara bersamaan tanpa memperhatikan urutan penaklukan sebagaimana teori FiveRings. Karena sebagian besar sektor-sektor kritis telah menggunakan peralatan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) maka dengan menguasai sektor-sektor tersebut, dengan mudah sebuah negara dilumpuhkan dan dikuasai. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, militer dapat melakukan olah yudha antar dua kekuatan yang memiliki kemampuan cyber warfare, misal kelompok Merah dan Biru. Salah satu skenarionya adalah kelompok Merah melakukan cyberattack, sedangkan kelompok Biru dengan semua sumber daya yang dimilikinya harus melakukan perlindungan, identifikasi dan penangkalan cyber. Dari olah yudha ini dapat dibangun sebuah konsep cyber deterrence dan cyber defense yang tepat bagi sebuah negara.

Selain MilSim 2017, diselenggarakan juga secara paralel 3 (tiga) kegiatan lainnya. Undersea Defense Technology (UDT) 2017 yang merupakan forum untuk mengeksplorasi inovasi-inovasi, tantangan-tantangan dan kebutuhan-kebutuhan di masa depan terkait sektor pertahanan bawah air. Electronic Warfare (EW) Singapore sebagai forum untuk berbagi pengalaman dan keilmuan terkait masa depan dari operasi-operasi EW dan Electromagnetic (EM) dihadapkan pada perubahan lingkungan strategis dan munculnya ancaman-ancaman baru seperti Hybrid Warfare dan Anti Access/Area Denial (A2/AD) yang merupakan lawan potensial. Forum EW juga menjadi sarana berkumpulnya komunitas Signal Intelligence (SIGINT), Cyber EM Activities (CEMA) dan Command, Control, Communications, Computer, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (C4ISR). Forum berikutnya adalah Remote Healthcare Asia yang menyediakan sarana bagi para profesional medis, akademisi dan industri untuk berbagi pengalaman dan keilmuan serta inovasi-inovasi yang dikembangkan oleh militer internasional, pengobatan pada kondisi kebencanaan dan tantangan-tantangan yang dihadapi ketika melaksanakan operasi di wilayah terpencil.