UNAND DAN SETJEN WANTANNAS JALIN KERJASAMA PENELITIAN TENTANG PENGEMBANGAN SAPI UNTUK PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

Rabu, 23 Februari 2017 bertempat di Ruang Sidang Auditorium Kampus Universitas Andalas (Unand) Limau Manis Padang, diselenggarakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Setjen Wantannas dengan Unand. Kerjasama ini ditandatangani langsung oleh Rektor Unand, Prof. Dr. Tafdil Husni, SE, MBA dan Sesjen Wantannas, Letjen TNI Nugroho Widyotomo. Pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan perjanjian kerjasama yang ditandatangani oleh Deputi Politik dan Strategi, Irjen Pol Drs. Tjetjep Agus Supriyatna, MM.,MH dan Wakil Rektor IV Unand, Dr. Endry Martius, M.Sc.

 

 

 

Unand adalah salah satu PTN yang pertama berdiri di luar Jawa sekitar 60 tahun yang lalu. Saat ini Unand telah berkembang, dan termasuk salah satu Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia, yaitu pada Peringkat 11, naik 2 peringkat dari tahun sebelumnya. Dalam hal riset, penelitian dosen Unand juga sudah masuk Penelitian kluster mandiri pada Peringkat 11. Rektor Unand, Prof. Dr. Tafdil Husni, SE, MBA mengatakan dalam sambutannya bahwa salah satu kekuatan penelitian Unand adalah di bidang pangan termasuk yang menyangkut pembangunan peternakan sapi. Berkaitan langsung dengan subsektor pangan ini Unand di topang oleh 3 fakultas yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan dan Fakultas Teknologi Pertanian. “Dalam hal ini, mengingat kerjasama akan mencakup spektrum akademik yang masih cukup luas, maka pada kesempatan ini dimulai dengan fokus pada isu ketahanan pangan strategis yang dianggap realistis untuk dijalankan, yaitu isu tentang pembangunan peternakan sapi potong yang inklusif” ujar Rektor Unand.

Masih dalam sambutannya, Rektor Unand menyampaikan bahwa pembangunan dan pengembangan peternakan sapi belum memperlihatkan hasil yang sesuai dengan harapan, meskipun sebenarnya upaya tersebut sudah diakselerasi secara selaras dengan program berswasembada daging sejak tahun 1995. Kebutuhan daging sapi dalam negeri justru semakin sulit dipenuhi, apalagi dengan pengadaan melalui produksi dalam negeri. Bukan itu saja, harga daging sapi cenderung semakin mahal dan sekaligus berfluktuasi.

“Pembangunan peternakan sapi potong adalah bagian amat penting dalam gerakan ketahanan pangan di subsektor peternakan. Indonesia dengan penduduk lebih dari 250 juta merupakan pasar daging sapi terbesar di Asia Tenggara, dan karenanya rawan terhadap kekurangan pasokan daging apabila mengandalkan importasi. Kompleksitas masalah akan bertambah ketika Indonesia sekarang akan semakin intensif berinteraksi dalam integrasi pasar di kancah liberalisasi MEA” papar Rektor Unand.

Lebih jauh Rektor Unand memaparkan bahwa perlindungan kepada petani atau peternak sapi perlu dilakukan tanpa perlu merusak konstelasi pasar pangan yang mungkin sudah terkerangka oleh MEA. “Dalam hal ini, mungkin kita bisa belajar kepada pengalaman negara Jepang” ujarnya. Di negara Jepang, harga pasar pangan dikawal secara rasional menjadi relatif terjangkau (murah) oleh konsumen umum, yang berjalan secara paralel dengan diterapkannya kebijakan fiskal untuk memberi kompensasi kepada petani/peternak dengan membayar produksi pangan dalam negeri langsung dari petani dengan harga yang berlipat-ganda dari harga internasional.

Sementara itu Sesjen Wantannas, Letjen TNI Nugroho Widyotomo dalam sambutannya menyampaikan beberapa data bahwa komoditas pertanian subsektor peternakan dalam hal ini daging sapi memperlihatkan pertumbuhan angka konsumsi lebih tinggi dibanding angka produksi. Berdasarkan analisis, produksi daging sapi dihadapkan pada konsumsi nasional telah mengalami defisit sejak tahun 2013 sebesar 163.450 ton, dan mencapai angka defisit tertinggi pada tahun 2016 sebesar 196.970 ton. “Dari analisa tersebut diprediksi bahwa hingga tahun 2019 indonesia masih defisit produksi daging sapi di atas 100.000 ton. Bila dibiarkan terus menerus tanpa upaya yang konkrit, maka indonesia akan selamanya menggantungkan pemenuhan daging sapi dari impor” ujar Sesjen.

Sesjen Wantannas meneruskan bahwa untuk memberdayakan peternakan sapi, diperlukan usaha yang maksimal, sehingga mampu mencukupi kebutuhan regional maupun nasional dalam rangka ketahanan nasional. Untuk itu Wantannas melakukan kerjasama dengan Unand guna melakukan penelitian yang didahului dengan penandatangan MoU.

Kegiatan tersebut kemudian diakhiri dengan pertukaran cindera mata kedua belah pihak dan photo bersama. Sesuai dengan rencana, hasil penelitian tentang pemberdayaan peternakan sapi untuk mencukupi kebutuhan nasional tersebut akan di paparkan kepada publik melalui kegiatan Seminar dan Lokakarya yag akan diselenggarakan pada tanggal 17 Mei 2017.