Setjen Wantannas Bersama Univ. Udayana Selenggarakan Semilokanas Tentang Pengembangan Kepariwisataan Daerah Bali

Pada tanggal 22 Maret 2016 bertempat di Hotel Discovery Kartika Plaza Hotel, Kuta Bali, diselenggarakan Seminar dan Lokakarya Nasional dengan judul bahasan “Kajian Kebijakan Pengembangan Kepariwisataan Daerah Bali Dalam Rangka Menuju Pariwisata Berkeadilan dan Berkelanjutan”. Semiloka Nasional ini diselenggarakan oleh Setjen Wantannas bekerjasama dengan Universitas Udayana/Unud Bali serta Kementerian Pariwisata. Sesjen Wantannas yang diwakili oleh Deputi Pengembangan Marsda TNI Sugihardjo, SE,MM didampingi oleh Rektor Unud, Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.Pd.Kemd, dan Menteri Pariwisata yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Multikultural, Hari Untoro Drajat serta Gubernur Bali yang diwakili oleh Kadis Pariwisata AA Gede Yuniartha Putra, SH, MH secara resmi membuka kegiatan Semiloka Nasional yang di ikuti oleh para undangan yang berasal dari para pejabat rektorat Unud, Forum Komunikasi Perangkat Daerah/FKPD Prov. Bali, Kapolda Bali, Pangdam IX/Udayana, Danrem 163/Wisatya, Dan Lanud Ngurah Rai, Dan Lanal Benoa, Komunitas Pariwisata Bali serta segenap elemen masyarakat Bali.

Rektor Unud dalam sambutannya menyampaikan bahwa Bali terkenal memiliki budaya, karena para leluhur telah mewariskan filosofi budaya Bali. Keindahan budaya yang ditopang oleh nilai-nilai luhur keagamaan saat ini terus dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat Bali memiliki daya pikat tersendiri di sektor pariwisata. Namun bila dibandingkan dengan negara Singapura yang hanya memiliki luas wilayah lebih kecil dari Bali, Singapura telah dikunjungi oleh 4,9 juta wisatawan mancanegara, sementara Bali hanya 3 juta wisatawan mancanegara, ditambah 7 juta wisatawan domestik. Bila ingin meningkatkan jumlah wisatawan, harus dilakukan pembenahan kepariwisatan yang bertujuan sebagai model bagi daerah lain.

Selanjutnya Sambutan Gubernur Bali yang diwakili oleh Kadis Pariwisata, AA Gede Yuniartha Putra, SH, MH mengatakan bahwa pariwisata menjadi hal yang penting untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Forum Semiloka ini baik dilaksanakan dengan tujuan mengkoordinasikan gagasan masyarakat dengan unsur pembuat kebijakan, sehingga antara keinginan dan kegiatan pembangunan yang direncanakan pemerintah akan mendapatkan titik temu. Pembangunan kepariwisataan harus melihat kemampuan dan daya dukung sarana prasarana seiring dengan kunjungan wisatawan.

Sementara itu dalam mengawali sambutannya Sesjen Wantannas yang diwakili oleh Deputi Pengembangan menyampaikan bahwa Bali sebagai salah satu destinasi pariwisata dunia menjadi tolok ukur pembangunan kepariwisataan di Indonesia dan sekaligus menjadi indikator keberhasilan pariwisata Indonesia, yang ditunjukkan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun nusantara. Untuk pengembangan kepariwisataan daerah Bali menuju pariwisata berkeadilan dan berkelanjutan diwujudkan dengan mengakomodasikan kepentingan daerah dalam regulasi, mencantumkan kebudayaan sebagai dasar penghitungan dana bagi hasil dalam UU Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah, mengimplementasikan Tri Hita Karana di sektor kepariwisataan  secara konsekuen, dan mengembangkan destinasi dan kawasan strategis pariwisata lebih merata.

Menteri Pariwisata yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Multikultural sebagai Keynote Speaker menyampaikan bahwa sektor pariwisata merupakan sektor prioritas pembangunan kabinet kerja. Mengutip arahan Presiden yang menyatakan bahwa tahun 2016 adalah tahun percepatan diantaranya memastikan kemajuan di lapangan pada 10 destinasi wisata nasional dan perlunya sistem yang terintegrasi dalam promosi perdagangan, pariwisata dan investasi. Dalam pemaparannya, disampaikan beberapa data mengenai sektor pariwisata Indonesia diantaranya daya saing Indonesia meningkat dari peringkat 70 menjadi peringkat 50 dunia. Di sisi lain jumlah kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia tahun 2014 hanya sepertiga dibanding Malaysia dan Thailand yaitu sejumlah 9,4 juta. Pada tahun 2015 naik sebesar 10% menjadi 10,4 juta. Sedangkan tahun 2016 pemerintah menargetkan 12 juta kunjungan wisman. Staf Ahli juga memaparkan mengenai konsep pembangunan kepariwisataan nasional guna mewujudkan destinasi pariwisata yang aman, nyaman, menarik, mudah dicapai, berwawasan lingkungan, meningkatkan pendapatan nasional, daerah dan masyarakat.

Kegiatan selanjutnya yaitu pemaparan hasil penelitian yang dipandu oleh Moderator Dr.  Putu Tuny Cakabawa Landra, SH.,MH. Paparan disampaikan oleh Tim Peneliti yaitu Dr. Drs. I.B.G Pujaastawa,MA dan Prof. Dr. IB. Wyasa Putra, SH, M.Hum. Beberapa point penting dalam hasil penelitian yaitu mengenai model pengembangan pariwisata Bali dimana  pariwisata yang disajikan adalah pariwisata budaya yang ditopang oleh unsur-unsur agama Hindu dan falsafah Tri Hita Karana yaitu pariwisata yang mengedepankan harmoni antara manusia dengan lingkungan spiritual, lingkungan sosial, dan lingkungan alamnya. Sehingga budaya dan pariwisata harus berada dalam pola hubungan interaktif yang bersifat dinamik dan progresif. Dalam penelitian tersebut ditemukan permasalahan diantaranya pengembangan pariwisata lebih terkonsentrasi di Bali Selatan. Salah satu kesimpulan yakni perlu regulasi dan kebijakan yang lebih arif agar kepariwisataan Bali mampu menjamin ketahanan ekonomi, ekologi, sosial-budaya, serta politik secara lebih merata dan berkelanjutan.

Setelah sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung, selanjutnya Deputi Pengembangan menutup acara Semiloka Nasional dengan terlebih dahulu menyampaikan pidato penutupan. Kegiatan dilanjutkan oleh Tim Perumus Setjen Wantannas dan Tim Peneliti Unud yang berlangsung sampai dengan tanggal 23 Maret 2016.