ASIA REFINING TECHNOLOGY CONFERENCE (ARTC) 20TH ANNUAL

“Inovasi Teknologi Refining Dalam Mendukung Kemandirian Energi Guna Memperkokoh Ketahanan Nasional”, demikian tema yang diajukan oleh Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, sebagai referensi peserta pada kegiatan Asia Refining Technology Conference (ARTC) di Grand Hyatt Hotel tanggal 29-30 Maret 2017.

Asia Refining Technology Conference (ARTC) merupakan kegiatan konferensi international pada tataran Asia yang mengangkat materi mengenai inovasi teknologi Refining dan Petrochemical,  pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh World Refining Association (WRA) merupakan kegiatan yang ke 20, dan untuk tahun ini agenda kegiatan ARTC diselenggarakan di Indonesia serta Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Setjen Wantannas) ditunjuk sebagai Host, adapun lembaga lain yang ditunjuk sebagai Co-Host adalah Universitas Pertahanan (Unhan) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Alasan utama World Refining Association (WRA) meminta kesediaan Setjen Wantannas untuk menjadi penyelenggara kali ini adalah Karena Setjen Wantannas dipandang memiliki posisi strategis di Indonesia. Apabila dikaitkan dengan tugas dan fungsi Setjen Wantannas sebagai Pembina Ketahanan Nasional , ARTC masih relevan dengan ketahanan energi.

Salah satu Keynote Speaker dalam kegiatan ini adalah Letnan Jenderal TNI Nugroho Widyotomo selaku Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, menyampaikan bahwa tantangan dibidang energi semakin nyata didepan mata, energi sebagai kebutuhan primer semakin lama semakin menipis. Guna mengatasi hal tersebut, maka setiap negara harus berupaya melakukan inovasi untuk mengatasinya, inovasi teknologi merupakan salah satu modal pendorong kemajuan suatu negara.

Perkembangan saat ini, energi minyak bumi masih merupakan energi primadona dan energi vital di berbagai negara, termasuk di indonesia, maka pengelolaan dan pemanfaatannya harus dilakukan secara hati-hati dan bijaksana, apabila pengelolaannya tidak sesuai dengan ketentuan perundangan, dikhawatirkan adanya pengaruh kepentingan untuk keuntungan kelompok tertentu, sehingga kepentingan pembangunan nasional dapat terganggu.

Untuk itu pemerintah telah memacu pembangunan kilang dan Refining di beberapa lokasi. Hal ini diharapkan adanya pemerataan pemanfaatan energi di seluruh wilayah Indonesia, sehingga dapat menggerakan perekonomian daerah. Disisi lain pemerintah juga mendorong peran BUMN dan BUMD, serta PMDN dan PMA dibidang perminyakan di Indonesia agar ikut berpartisipasi dan mendukung pembangunan infrastruktur dan fasilitas pendukung, guna mewujudkan kemandirian energi.

Minyak bumi merupakan energi primer yang menurut perundang-undangan terkait masuk dalam golongan bahan galian vital, artinya pengelolaan oleh negara sebesar-besarnya untuk kepentingan negara dan masyarakat. Dipadukan dengan inovasi teknologi Refining, maka minyak bumi dapat diolah menjadi bahan bakar minyak dan turunannya seperti untuk bahan industri Petrokimia dan Chemical.

Presiden RI berkomitmen untuk mewujutkan harga dan ketersediaan BBM dan listrik sama di seluruh wilayah RI, guna menggerakkan perekonomian daerah, khususnya di daerah dan pulau-pulau terpencil, serta di perbatasan negara. Hal tersebut, diharapkan dapat tercapainya kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah. Untuk mendukung perwujudan komitmen tersebut, dalam hal ini perlu adanya percepatan pembangunan fasilitas Refining, khususnya di wilayah Indonesia Bagian Timur.

Seiring dengan tantangan dan peluang tersebut, Setjen Wantannas sebagai fasilitas Staf  Presiden yang merupakan forum persidangan dalam merumuskan rancangan kebijakan ketahanan nasional dituntut lebih responsif dan antisipatif dalam memecahkan atau menemukan solusi terhadap berbagai permasalahan krusial strategis yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia. solusi tersebut harus dibuat dalam tempo yang lebih cepat dengan analisa yang akurat dan terukur seiring  dengan cepatnya perubahan dinamika lingkungan internal dan eksternal.

Menutup sambutannya Sesjen Wantannas berharap, seminar ini mampu memberikan kontribusi positif terhadap bangsa Indonesia, dan diharapkan dapat dijadikan motor penggerak kemajuan pengembangan dibidang energi nasional yang berkesinambungan.

Selain itu, Staf Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sesjen Wantannas, Bapak Dr. Ir. Hendri Firman Windarto, M.Eng dan Brigjen TNI Toto Siswanto, S.IP, M.M. selaku Pembantu Deputi Urusan Lingkungan Strategi Setjen Wantannas diminta untuk menjadi Panel Speaker dalam kegiatan ini. Staf Setjen Wantannas yang turut hadir dalam kegiatan ini diantaranya (1) Laksda Dr. Djajeng Tirto Soedarsono (Staf Ahli Bidang Sosial Budaya), (2) Irjen Pol Drs. Bambang Hermanu, S.H., M.M. (Staf Ahli Ekonomi), (3) Irjen Pol Drs. Tjetjep Agus Supriyatna, M.M.,M.H (Deputi Politik dan Strategi), (4) Brigjen TNI Slamet Riyadi (Pembantu Deputi Urusan Lingkungan Sosial, Kedeputian Sistem Nasional), dan (5) Kolonel Lek Dr. Arwin DW. Sumari, S.T., M.T., (Analis Kebijakan Rencana Kontinjensi Ekonomi, Kedeputian bidang Politik dan Strategi).

Sementara perusahaan minyak yang ambil bagian dalam kegiatan ini diantaranya Pertamina, Indian Oil, Petronas, Bangchak, Hyundai Oilbank, Pentas Flora, PTT Global Chemical, GS Caltex, SPC, dan SRC.