Setjen Wantannas Selenggarakan Semilokanas tentang Strategi Pengembangan Pariwisata Pulau Morotai

Setjen Wantannas bekerjasama dengan Universitas Khairun Ternate menyelenggarakan Seminar dan Lokakarya Nasional/Semilokanas pada tanggal 12 September 2017. Semilokanas yang bertajuk “Strategi Pengembangan Pariwisata Pulau Morotai sebagai Destinasi Unggulan untuk Mendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)” tersebut dihelat di Hotel Grand Dafam Bela Ternate. Semilokanas dibuka secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Wantannas, Letjen TNI Nugroho Widyotomo. Hadir pada kesempatan tersebut Rektor Universitas Khairun yang diwakili oleh Warek IV, Dr. H. Said Hasan, M.Pd, Wagub Maluku Utara, Ir. H.M. Natsir Thaib, Menteri Pariwisata yang diwakili oleh Ketua Tim Percepatan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, Hiramsyah S Thaib, Wakapolda Maluku Utara, Danrem 152/Babullah, Dandim Ternate, Danlanud Ternate, Danlanal Ternate, Wakil Walikota Ternate, Wakil Walikota Tidore, Bupati Halteng, Bupati Haltim, Bupati Halut, dan segenap Forkopimda Maluku Utara.

Pada sambutan pembukaannya, Warek IV Universitas Khairun menyampaikan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Universitas Khairun sebagai sebuah upaya untuk menyiapkan Morotai sebagai destinasi unggulan pariwisata yang dapat memberikan kontribusi peningkatan ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Selanjutnya Warek IV menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan bisa memberikan inspirasi untuk menghidupkan Maluku Utara sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Sementara itu, Sesjen Wantannas diawal sambutannya setelah secara singkat menjelaskan tentang tugas dan pokok Setjen Wantannas menjelaskan bahwa kegiatan Semiloka ini bertujuan untuk memberikan masukan dan kontribusi kepada pemerintah sebagai upaya pemberdayaan sumberdaya yang tersedia di daerah. “Setjen Wantannas juga mempunyai tugas baru sebagai institusi dalam hal penanganan dan pembinaan bela negara, sehingga seluruh kegiatan bela negara akan berada dibawah koordinasi Setjen Wantannas” ujar Sesjen. Pembinaan bela negara tersebut bersifat koordinasi, sinkronisasi, dan harmonisasi, sehingga aksi bela negara secara teknis tetap diselenggarakan oleh K/L masing-masing.

Sementara itu Wakil Gubernur Maluku Utara dalam sambutannya menyampaikan bahwa daerah kawasan KEK Pulau Morotai merupakan upaya pengembangan kawasan tertentu di wilayah Pulau Morotai untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dengan memperoleh fasilitas tertentu di sektor industri, pengolahan ikan, manufaktur, logistik dan pariwisata. “KEK di Pulau Morotai dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri, pariwisata dan kegiatan ekonomi lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional” ujar Wagub.

Menteri Pariwisata yang diwakili oleh Ketua Tim Percepatan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas yang bertindak sebagai keynote speaker menyampaikan bahwa pariwisata telah mengalami ekspansi dan diversifikasi berkelanjutan, dan menjadi salah satu  sektor ekonomi yang terbesar dan tercepat pertumbuhannya di dunia. “Tahun 2010 diproyeksikan bahwa sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia” ujarnya. Hal tersebut sesuai kondisi saat ini dimana pariwisata berada di urutan ke-empat sebagai sektor penyumbang devisa negara terbesar setelah minyak bumi, batu bara, dan CPO. Selanjutnya Hiramsyah menjelaskan data mengenai tourism competitiveness index ranking dimana sektor pariwisata selalu mengalami kenaikan secara signifikan dimana pada tahun 2017 menempati rangking ke-42 setelah tahun 2015 menempati rangking ke-50 dan pada tahun 2013 menempati rangking 70. Dalam kesempatan tersebut Hiramsyah memaparkan strategi pengembangan pariwisata dengan konsep 3A, yaitu Atraksi, Akses, dan Amenitas.

Pada akhir penjelasannya, Hiramsyah memberikan kesimpulan paparannya yakni pengembangan kawasan Kepulauan Morotai sebagai destinasi utama berstandar internasional, critical success factor yaitu pembenahan sejumlah Infrastruktur strategis diantaranya perlunya peningkatan bandara, pembangunan gedung terminal baru, pembangunan pagar pengaman sepanjang 7000 m, pembangunan jalan baru seluas 9.450 m2, dan pelebaran serta pengerasan landasan bandara.

Kegiatan selanjutnya yaitu pemaparan hasil penelitian yang disampaikan oleh Ketua Tim Peneliti Universitas Khairun, Dr. M. Ridha Ajjam, M.Hum. Mengawali paparannya, disampaikan mengenai tujuan penelitian menginventarisir dan mengidentifikasi objek-objek wisata alam, wisata sejarah dan wisata budaya berupa adat-istiadat yang tersebar di Kabupaten Pulau Morotai serta menyusun strategi pengembangan potensi pariwisata yang terkait dengan percepatan pembangunan ekonomi di Kabupaten Pulau Morotai. Dr. M. Ridha beserta tim melakukan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka (desk study), pengamatan (observasi), penentuan informan dan wawancara, diskusi terpumpun, serta teknik analisa data.

Secara rinci, Dr. M. Ridha menjelaskan potensi pariwisata Pulau Morotai, yakni terdapat sekitar 20 wisata alam, 16 titik lokasi peninggalan perang dunia ke-II, 1 tempat gua prasejarah, dan 6 tarian tradisional dan pengrajin tradisional. Lebih jauh Dr. M. Ridha menjelaskan bahwa terdapat 5 aspek penting desai pariwisata Morotai yaitu membuat koneksi untuk menembus isolasi, membuat narasi ekologis historis PD-II, membuat desain destinasi unggulan, penguatan lembaga penggiat pariwisata, dan dukungan kebijakan dan parsipasi masyarakat.

Hasil penelitian tersebut kemudian ditanggapi oleh Tim penanggap, diantaranya Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Ternate, Dr. Herman Usman, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara, Syamsudin Abdul Kadir, dan Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia, Didin Junaedi. Tim penanggap memberikan beberapa masukan dan saran terkait hasil penelitian Universitas Khairun diantaranya perlunya mengungkap karakter masyarakat Morotai sebagai daya jual tersendiri, perlunya kesiapan ketahanan sosial budaya, pentingya komunitas dalam upaya pengembangan pariwisata Morotai, political will dan komitmen yang kuat dari pemerintah, product labeling, perlunya penguatan promosi, dan peningkatan koordinasi lintas sektor.