SESJEN WANTANNAS: PERAN MAHASISWA DALAM BELA NEGARA ADALAH BAGIAN DARI MENJAGA KETAHANAN NASIONAL

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Letnan Jenderal TNI Nugroho Widyotomo dalam orasi ilmiahnya pada acara Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-54 Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di Purwokerto, Jawa Tengah, menyampaikan bahwa peran mahasiswa dalam bernegara untuk menjaga ketahanan nasional adalah suatu tuntutan.

Mahasiswa sebagai agent of change dan social controlAgent of change yaitu suatu tindakan yang membawa suatu keadaan dari kondisi yang kurang baik ke kondisi yang lebih baik, dan yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. “Selalu dari pemikiran mahasiswa harus ada pemikiran hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari besok harus lebih baik dari hari ini. Pemikiran-pemikiran yang individualisme dari mahasiswa seharusnya dibuang dan beralih pada pemikiran sosial dengan mewujudkan kehidupan bernegara dan bernegara”, tandasnya.

Dalam orasi yang disampaikan pada Sabtu (23/9/2017) dengan tema “Peran Mahasiswa Dalam Bela Negara Adalah Bagian Dari Menjaga Ketahanan Nasional”, sekaligus disampaikan bahwa mahasiswa seharusnya berpikir untuk mengembalikan dan mengubah kondisi negara ini menjadi negara ideal dan mampu bersaing. Lima nilai dasar dari bela negara yaitu cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, yakin pada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban  untuk bangsa dan negara, dan kemampuan awal bela negara baik psikis maupun fisik. “Bela negara tidak harus dalam wujud perang tetapi bisa dengan cara lain seperti belajar dengan rajin, tidak menyebarkan berita Hoax dan ujaran kebencian, hidup bertoleransi, melestarikan budaya, memakai produk Indonesia, berprestasi mengharumkan nama bangsa di dunia internasional, menjaga nama baik bangsa dan negara”, jelasnya.

Generasi masa depan Indonesia yang mempunyai kesempatan mengikuti pendidikan jenjang strata 1, lanjut Sesjen, sedang dipersiapkan untuk menyongsong Indonesia hebat. Untuk itu, sumber daya manusia Indonesia harus besar, kuat dan maju agar mampu bersaing dengan negara-negara lainnya. Perlu mendapat perhatian, Indeks kompetensi yang dikeluarkan oleh World Economic Forum pada 2013, Indonesia menempati urutan ke-50, rendah dari Singapura, Malaysia (ke-20), dan Thailand (ke-30).

Tidak lupa Sesjen mengingatkan, Mahasiswa seharusnya berfikir untuk mengembalikan dan mengubah kondisi negara kita ini menjadi negara ideal dan mampu bersaing. Perubahan sangat diperlukan untuk tercapainya keidealismean di di dunia ini, namun, dengan tidak menghilangkan jati diri sebagai mahasiswa dan Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang sopan, ramah, bermoral dan memiliki akhlak yang mulia.

Mahasiswa tidak boleh acuh terhadap perkembangan dinamika kepemerintahan yang sedang berjalan. Kesalahan-kesalahan atas kebijakan yang dilakukan penguasa harus dikritik. Mahasiswa harus menjadi generasi yang cerdas dan tidak diam begitu saja ketika masyarakatnya bergeming. Mahasiswa harus berada di garda terdepan dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Dalam upaya Bela Negara, mahasiswa diharapkan dapat ikut ambil bagian dalam memerangi narkoba di lingkungan kampus maupun di luar kampus, menolak keterlibatan dalam paham-paham radikalisme dan ikut serta melakukancounter narasi terhadap paham-paham radikal, ujaran kebencian dan narasi-narasi yang memecah belah bangsa.

Pembinaan kesadaran Bela Negara bagi para mahasiswa sangat diperlukan, melalui penanaman nilai-nilai Bela Negara, rasa cinta tanah air, kesadaran berbangsa bernegara, meyakini Pancasila sebagai ideologi negara.

Sementara itu, Rektor Universitas Jenderal Soedirman dalam laporan tahunannya dihadapan Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-54 Unsoed, menyampaikan, Semua capaian Unsoed di Tahun 2017 semakin memantapkan capaian Rencana Strategis (Renstra) Unsoed Berkarakter 2018 sebagai pondasi ke tahapan Renstra selanjutnya yaitu Unsoed “Berkontribusi” (2022), Unsoed yang “Diakui” (2026) dan Unsoed yang “Dihormati” (2034).

Pada bidang akademik, Unsoed kembali menjadi salah satu Perguruan Tinggi Negeri dimana seleksi penerimaan calon mahasiswanya memiliki tingkat keketatan yang tinggi, baik dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), maupun Seleksi Mandiri.  Dari sebanyak 133.032 calon mahasiswa yang mendaftar, hanya ada 5.339 yang diterima di berbagai Program, dimana 11 orang diantaranya berasal dari mancanegara.

Unsoed juga sangat menyadari dan memahami pentingnya pengembangan pembelajaran dan penjaminan mutu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari akuntabilitas publik.  Untuk itu, melalui unit-unit kerja yang terkait telah dilakukan sejumlah upaya seperti pengembangan kurikulum berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), penyusunan bahan ajar berbasis riset, pengembangan e-learning dan multimedia, pengembangan profesionalisme dosen serta sistem penjaminan mutu internal  dan eksternal.

Secara khusus, pada Dies kali ini juga dilaksanakan peluncuran Buku Biografi Prof. Rubijanto Misman, Rektor Unsoed periode 1997–2001 dan 2001-2005. Penyerahan buku ditujukan kepada Rektor Unsoed, Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Letjen TNI Nugroho Widyotomo, Dr (Hc) Drs. Subiakto Tjakrawerdaya, Dr (Hc) Ir. Siswono Yudo Husodo, Prof Suyanto Ph.D, Prof. Dr. Sutjipto, dan Prof. Dr. Djoko Wahyono.

Tidak ketinggalan, berbagai kegiatan bernuansa akademik, non akademik maupun berupa pengabdian masyarakat turut diselenggarakan seperti ziarah ke makam Panglima Besar Jenderal Soedirman, seminar, olah raga dan seni, malam tasyakuran, doa bersama, bakti sosial, pameran serta malam resepsi.