SESJEN WANTANNAS KENALKAN ISTILAH ECOCRACY

Senin, 9 April 2018, Sesjen Wantannas, Mayjen TNI Doni Monardo berkesempatan untuk memimpin kegiatan jam Pimpinan di Lt.5, Kantor Setjen Wantannas, Jl. Medan Merdeka Barat 15, Jakpus. Kegiatan yang dimulai pada pukul 07.30 WIB tersebut dihadiri oleh para Deputi, para Staf Ahli, para Bandep, para Anjak, dan seluruh pegawai Setjen Wantannas.

Mengawali arahannya, Sesjen Wantannas mengulas mengenai paparannya ketika berlangsung kegiatan serah terima jabatan dimana perjalanan hidupnya yang hampir 99% berada di lapangan. Merupakan sebuah keniscayaan sekarang bertugas di Setjen Wantannas, dimana kewajibannya untuk mencurahkan seluruh pikiran dan tenaganya untuk Setjen Wantannas.

Selanjutnya Sesjen menekankan pentingnya membangun sebuah lingkungan kerja yang harmonis, penuh suasana kekeluargaan dimana masing-masing pihak memahami tugasnya masing-masing.

Sesjen Wantannas menyampaikan tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran. Setiap kegiatan harus mencantumkan sumber anggaran dan realisasi penggunaan anggarannya. “Marilah kita berfikir untuk membesarkan organisasi. Jangan hidup dari organisasi, tapi menghidupi organisasi” ujar Sesjen.

Sesjen juga menerangkan tentang upayanya saat ini untuk dapat terkoneksi dengan Kantor Staf Presiden dengan menyusun mekanisme kerja antar kedua instansi tersebut.

Sesjen Wantannas menegaskan kembali arahan Menko Polhukam ketika kegiatan Pelantikan Sesjen Wantannas yaitu mengenai revitalisasi program bela negara, perlunya menyusun blue print bela negara, serta bagaimana menghilangkan stigma masyarakat mengenai bela negara yang cenderung militeristik, namun bela negara harus dapat menyentuh semua sendi kehidupan dan profesi.

Masih pada arahannya, Sesjen menyampaikan pentingnya siklus GovernmentAcademyBusinessCommunitydan Media dalam melakukan pengelolaan, dalam hal ini termasuk pengelolaan ekonomi. Sesjen mencontohkan negara Singapura yang secara geografis kecil dan tidak memiliki kekayaan alam seperti Indonesia, namun pada kenyataannya mampu meng-ekspor dan memproduksi rempah-rempah ke seluruh dunia.

Selanjutnya Sesjen juga menerangkan mengenai potensi perikanan nasional yang menurut sebuah data mencapai pada angka 12,5 juta ton. Namun potensi tersebut perlu di tindaklanjuti dengan program budidaya yang optimal. Sebagai contoh di pulau-pulau di Provinsi Maluku yang jaraknya dekat-dekat bisa dimanfaatkan dengan membangun balai-balai pembenihan.

Produk furniture pun sudah mulai dikuasai oleh pihak asing. Swedia contohnya yang telah memiliki pasar furniture di seluruh dunia. Demikian juga pasar di Indonesia yang sudah mulai dikuasi oleh pihak asing. Padahal Indonesia adalah negara penghasil kayu sebagai bahan utama furniture. Pada saat yang sama, secara tidak disadari Indonesia mempunyai pohon masoya, dimana dibuat sebagai bahan baku pembuatan parfum kualitas terbaik di dunia dengan harga yang cukup mahal.

Masih pada kesempatan yang sama, Sesjen mencermati tentang beberapa hal dalam mewujudkan SDM berkualitas yang ditentukan oleh beberapa faktor: 1) genetika, 2) pendidikan dan latihan, 3) makanan dan minuman, dan 4) faktor lingkungan. Sesjen mencermati tentang sirkulasi air minum di Indonesia dimana 80 persen air di DKI di supply dari Sungai Citarum.

Lingkungan menjadi isu sensitif di banyak negara di dunia. Beberapa negara di dunia melakukan pengaturan lingkungan hidup di dalam konstitusinya masing-masing. Sesjen mencontohkan negara Ekuador, dimana hak asasi lingkungan hidup disejajarkan dengan hak asasi manusia. Pada kesempatan tersebut Sesjen juga mengenalkan prinsip ecocracy atau kedaulatan lingkungan hidup.