SESJEN WANTANNAS DISKUSIKAN CITARUM HARUM BERSAMA MENKO MARITIM

Bertempat di Kementerian Koordinator Kemaritiman, beralamat di Gedung BPPT 1 Lantai 3, Jalan M.H. Thamrin No. 8, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (11/04/2018) Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Sesjen Wantannas) Mayjen TNI Doni Monardo beserta jajarannya mengadakan pertemuan bersama Menterian Koordinator Kemaritiman (Menko Maritim) Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan. Pokok permasalahan yang dibicarakan pada pertemuan tersebut yaitu Program Citarum Harum yang diemban oleh Doni pada saat ia menjabat sebagai Panglima Kodam III Siliwangi.

Adapun Pemerintah melalui Kemenko Maritim telah memulai  gerakan besar dan masif guna merevitalisasi sungai Citarum. Saat ini berbagai persiapan di lapangan sedang dilakukan Mayjen TNI Doni Monardo dan dikoordinatori oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan atau yang akrab dipanggil Aher.

Menurut Sesjen dalam salah satu paparannya, penanganan revitalisasi Sungai Citarum  sesuai arahan Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas Penanganan Sungai Citarum (16/1/2018) tidak  ditugaskan kepada satu kementerian saja, akan tetapi  melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga serta Pemerintah Daerah Jawa Barat dengan dukungan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Sesjen melanjutkan, Revitalisasi Citarum adalah gerakan besar yang terintegrasi.

Masih merujuk pada materi paparan, Doni menjelaskan secara detil permasalahan sungan Citarum dari hulu hingga hilir, yaitu lahan kritis 26,022 hektare (20 persen) dan erosi sebesar 592.11 ton per hektare per tahun, sampah 500.000 meter kubik per tahun yang tidak dapat ditampung masuk ke sistem drainase dan sungai.

Kemudian sedimentasi 7,9 juta ton per tahun masuk ke sungai Citarum akibat tingginya erosi yang terjadi di daerah hulu sunga dan sungai tercemar dari limbah industri yang dibuang ke Sungai Citarum setiap harinya. Selanjutnya adalah permukiman berkembang tanpa perencanaan yang baik dan juga tanpa memperhatikan tata ruang yang ada serta penurunan tanah dicekungan bandung 4-5 centimeter per tahun karena pengambilan air tanah yang berlebihan oleh industri.

Lalu, belum adanya koordinasi dan implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) terpadu antara tiga waduk, hilir emergency spillway Waduk Jatiluhur di Ubrug yang telah dipenuhi permukiman dan menurunnya kondisi hidromekanikal waduk Ir. Djuanda ikut memperparah keadaan.

Untuk permasalahan Citarum hilir dikarenakan menurunnya kondisi dan fungsi prasarana irigasi, rusak berat 16 persen, dan rusak tingan 31 persen yang mengakibatkan menurunnya produksi padi di Waduk Jatiluhur yang menyumbang 6 persen produksi nasional.

Lebih dalam lagi Sesjen memaparkan bahwa kerusakan atas kualitas air Citarum kotoran manusia sebanyak 35,5 ton/hari, kotoran hewan 56 ton/hari, sampah rumah tangga 20.462 ton/hari, limbah industry 340.000 ton/hari dan limbah medis dalam bentuk kantong darah yang terkontaminasi virus HIV dan penyakit lain serta potongan organ atau tubuh manusia.