Bahas Reforestasi, Sesjen Wantannas Undang Pakar Kehutanan

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Letnan Jenderal TNI Doni Monardo mengundang para pakar di bidang kehutanan untuk membahas masalah Reforestasi Hutan yang diadakan di ruang Situation Room Kantor Setjen Wantannas Jl. Medan Merdeka Barat No. 15 Jakarta Pusat (21/05/18).

 

Rapat Koordinasi tentang Reforestasi tersebut sesuai dengan perintah lisan Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo pada acara pengarahan Presiden dalam rangka kenaikan pangkat perwira tinggi TNI dan Polri di istana Bogor pada Kamis 17/05/18 yang lalu. Presiden memerintahkan kepada Sesjen Wantannas untuk meminta masukan dari para pakar kehutanan terkait program Reforestasi lahan-lahan gundul di hutan Indonesia.

 

Sesjen Wantannas mengundang beberapa pakar kehutanan diantaranya  Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan KLHK Prof., Dr. Ir. Sigit Hardiwinarto, M.Ag, Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung KLHK, Dr., Ir. Ida Bagus Putera Parthama M.Sc, Pakar Silvikultur UGM Prof., Dr., Moch Naiem, Deputi II Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut Dr. Alue Dohong, Direktur Operasional Perhutani Hari Prayitno, serta pakar-pakar lainnya di bidang kehutanan.

 

Program Reforestasi merupakan salah satu program untuk mengurangi efek pemanasan global dengan cara menghijaukan kembali hutan yang gundul dan menanam pohon yang dapat menyerap karbondioksida, terutama penghijauan kembali hutan tropis sebagai paru-paru bumi.

 

Dalam pembukaannya, Sesjen merasa prihatin karena saat ini banyak pohon-pohon di Indonesia mulai langka dan susah ditemukan. Seperti kayu ulin di kalimantan yang saat ini susah sekali ditemukan bijinya, kayu eboni, serta pohon cendana yang saat ini kita hanya tahu namanya saja yang dijadikan nama jalan kediaman presiden RI ke 2. Betapa kita mengabaikan kualitas pohon dan tumbuhan  asli Indonesia. Selain karena banyaknya penebangan liar, tidak ada langkah pembudidayaan yang serius untuk melestarikan berbagai jenis pohon tersebut.

 

Sementara itu pengawas paguyuban budiasi dan hutan organik, Yuhan Subrata memaparkan tentang langkah-langkah organisasinya yang telah berhasil menghijaukan beberapa lahan gundul seperti di kawasan Megamendung Bogor, kali Ciliwung, serta yang terkini di Hulu sungai Citarum yakni situ Cisanti. Yuhan menjelaskan bahwa penghijauan yang dilakukan oleh paguyubannya mengutamakan tanaman endemik tanah sekitar serta mengedukasi masyarakat dengan mengajak terjun langsung untuk menanam dan menjaga bibit yang telah ditanam.

Wakil Rektor 3 Bidang kerjasama dan sistem informasi IPB Prof., Dr., Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc.F memaparkan bahwa menurunnya minat generasi muda untuk menjadi petani ternyata datang dari orangtuanya sendiri. Namun hal itu rata-rata berlaku bagi petani padi, sementara untuk petani buah dan kebun berbeda kasusnya. Rata-rata anak dari petani kebun ingin mengikuti jejak orangtuanya, karena menurut survei petani kebun lebih terbilang sukses daripada petani padi. Oleh karena itu banyak para orangtua yang saat ini bertani padi tidak ingin anaknya mengikuti jejak orangtuanya karena keuntungan dari bertani padi tidak sesuai dengan hasil yang didapatkan.

 

Rapat yang berlangsung hingga pukul 17.15 tersebut berlangsung hangat dan banyak mendapatkan masukan-masukan dari para pakar yang diundang yang bisa dijadikan masukan untuk presiden. Rapat ditutup dengan acara buka bersama para pakar dengan Sesjen Wantannas Letjen TNI Doni Monardo.