Buka Puasa Bersama Pererat Silahturahim di Lingkungan Setjen Wantannas

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Letjen TNI Doni Monardo mengadakan acara buka bersama bersama para pejabat dan staf Setjen Wantannas bertempat di hotel Grand Tulip l. Pintu Air V Ps. Baru, Jakarta Pusat pada Selasa (22/05/18). Acara buka bersama tersebut sekaligus tasyakuran kenaikan pangkat Letjen TNI Doni Monardo.

 

Lantunan ayat suci Al-Quran Surat Albaqarah 183-184 yang dibacakan dengan hikmat oleh Ahmad Romadoni dan sari tilawah oleh Eka Puji Astuti mengawali acara Buka Bersama Keluarga Besar Setjen Wantannas yang merupakan tema acara kali ini. Kegiatan kemudian dilanjutkan sambutan dari Sesjen Wantannas Letjen TNI Doni Monardo.

 

Dalam sambutannya, Sesjen menerangkan bahwa: ‘’saat ini banyak sekali orang yang mengaku beragama muslim tapi tidak menerapkan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama dalam kehidupan sehari-harinya’, ujarnya. Ia mencontohkan banyak sekali daerah di indonesia yang mayoritas beragama muslim tetapi buang sampah sembarangan, sungai-sungainya kotor dibiarkan, sampah menggunung di pinggir jalan.

 

Padahal jelas sekali dalam ajaran Islam mengajarkan tentang pentingnya menjaga kebersihan. Untuk itulah kiranya perlunya para alim ulama kembali mengajarkan dan menganjurkan ajaran-ajaran sederhana dan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sesjen juga menyampaikan kembali pentingnya mengedepankan upaya pencegahan dalam menanggulangi paham radikal yang saat ini semakin marak di indonesia. Upaya kontra radikalisme tidak bisa dilakukan hanya oleh satu lembaga. Diperlukan adanya satu kesatuan komando antar lembaga untuk menangkal paham radikal yang semakin banyak merasuki generasi muda kita.

Acara Buka bersama kali ini diisi oleh siraman rohani oleh KH. Dr. Mulyadi Efendi, MA pimpinan pengasuh pondok pesantren Al Qur’an Fatimiyah di Bekasi.

 

Dalam ceramahnya di hadapan para pejabat dan staf Setjen Wantannas ia mengatakan bahwa munculnya faham-faham radikalisme dikarenakan banyak dari umat memahami Al-Qur’an tidak dengan dasar keilmuan yang benar.

 

“Ketika pesantren yang jelas-jelas menjadi basis pendidikan umat Islam tidak lagi menggunakan penafsiran-penafsiran yang sesuai dengan ajaran islam, akhirnya munculah penafsiran-penafsiran yang hanya sesuai dengan kemauannya sendiri”, ujarnya. Ketika sudah muncul penafsiran hitam putih, maka mereka akan menganggap ajarannya paling benar dan yang lain salah.

 

Maka dari itu, Mulyadi bersama kawan-kawannya di study Ilmu Al Qur’an Jakarta pernah mengusulkan agar terjemahan Al-Qur’an versi Kementerian Agama yang ada sekarang sebaiknya direvisi karena banyak terjemahan ayat yang memunculkan radikalisme, padahal tafsiran sebenarnya bukanlah seperti itu. 

 

Acara dilanjutkan dengan buka puasa bersama dan dilanjutkan dengan Shalat Tarawih berjamaah bersama para pejabat dan staf setjen Wantannas yang dipimpin oleh Anjak Bid.Penegakan Hukum, Abdul Sofa, S.H., M.H.