Jurnalisme Damai dan Provokasi Baik : Peran Media dalam Menjaga Perdamaian

Peran media tidak dapat dilepaskan dalam situasi konflik maupun damai. Banyak pengalaman yang memperlihatkan bagaimana kekuatan kata-kata dapat mengarahkan suatu bangsa ke dua arah yang berbeda, maju atau hancur. Pada peristiwa konflik provokasi kekerasan sering kali datang dari media, seperti penggunaan kata “kerusuhan” yang mungkin saja sebenarnya hanya keributan kecil, tetapi sudah diterima sebagai peristiwa besar dan berbahaya.

 

Zairin Salampessy, pekerja media dari Maluku, menjelaskan “saat konflik, media terjebak dengan frame berpikir media di Jakarta, sehingga berakibat media lokal terjebak dalam provokasi kekerasan.” Pertanyaan seperti berapa korban yang mati, penggambaran bentuk kekerasan dan hal-hal sejenis yang ditanyakan kepada jurnalis di lokasi konflik sebenarnya mengarahkan jurnalis untuk berpikir bahwa situasi sudah parah dan berbahaya.

 

Untuk mencegah kekerasan, perlu diterapkan konsep peace journalism yang membangun pemberitaan dengan konten-konten yang memperlihatkan situasi damai dan hubungan antar individu yang baik. Contoh yang dapat diambil, misalnya menampilkan bagaimana saudara muslim membagikan makanan pada saudaranya yang nasrani. Hal ini sejalan dengan prinsip mengubah 4-M (Marah, Melotot, Mabuk dan Memukul) menjadi 4-S (Senyum, Sapa, Salam, Silaturahim).

 

Konflik adalah hal yang tidak enak, sangat merusak peradaban dan membuat semua terkoyak, termasuk jurnalis, demikian diungkapkan Juhry Samanery, pekerja media dari Maluku. Inisiatif jurnalis swasta di Maluku untuk membentuk Media Center dengan komitmen untuk memberitakan kondisi masyarakat dengan frame lokal dan menerapkan peace journalism merupakan jalan yang tepat untuk menjaga keutuhan dan perdamaian.