Sesalam Approach dan Hani Approach sebagai Strategi Deradikalisasi

Indonesia adalah negara yang multi-etnis, multi-ras, multi-suku, multi-budaya, dan multi-agama. Situasi ini rawan untuk mengarah ke arah berpecah-belah, namun disisi lain keberagaman juga menyimpan potensi yang sangat luar biasa untuk mencapai cita-cita luhur sebagai bangsa.

Dalam menghadapi konflik, peran tokoh agama merupakan salah satu faktor penting. Belajar dari Maluku, kita dapat melihat bagaimana salah seorang tokoh agama yang dihormati disana, Prof. Dr. H. M Attamimy M.Ag mengenalkan Sesalam Approach sebagai strategi dalam merekatkan keberagaman di Maluku. Sebelumnya masyarakat Maluku diperkenalkan dengan pendekatan 3-S (Senyum, Sapa dan Salam), kemudian disingkat menjadi Sesalam Approach.

 

Melengkapi Sesalam Approach, Attamimy juga memperkenalkan Hani Approach atau Hati Nurani Approach. Perpaduan kedua pendekatan ini sangat bermanfaat saat diterapkan untuk menjadi model deradikalisasi, terutama di tengah-tengah masyarakat majemuk.

 

Sebelum sampai pada model tersebut, dijelaskan juga oleh Attamimy bahwa kesatuan semua unsur dalam masyarakat adalah kunci dari penerapannya. Pada kasus Maluku, ini diinisiasi oleh Pj Gubernur pada masa Presiden Megawati, yaitu Sinyo Harry Sarundajang yang menggandeng elemen dan tokoh masyarakat di Maluku, baik militer maupun sipil hingga para tokoh agama, masyarakat dan pemuda yang berujung melibatkan seluruh masyarakat Maluku.

 

Pangdam Pattimura periode th 2016-2017 menggiatkan Metode Perdamaian tersebut, dan melengkapinya dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Maluku dengan Program Emas Hijau dan Emas Biru, kekayaan hasil bumi rempah dan budidaya ikan.

 

“Melalui Sarasehan Nasional: Merawat Damai ini diharapkan pembelajaran yang diperoleh oleh masyarakat Maluku dari penerapan Sesalam dan Hani Approach dapat bermanfaat bagi bangsa-bangsa lain”, demikian pemaparan ustad H. M.Attamimy.