Kebangkitan Perempuan Maluku paska-Konflik

Perempuan menjalankan 3 peran, sebagai perempuan atau dirinya sendiri, sebagai ibu dan sebagai istri. Ketiga peran yang dijalankan perempuan itu memiliki kekuatan yang berbeda. Irma Betaubun, aktivis perempuan dari Maluku, menekankan bagaimana kekuatan seorang perempuan sangat luar biasa pengaruhnya. “Perempuan bisa memiliki saudara yang berperang, sebagai istri kehilangan suami dan sebagai ibu dapat kehilangan anaknya yang berperang. Sebagai perempuan, ia dapat menjadi agen provokator dan dapat pula menjadi agen perdamaian.”

Kebangkitan perempuan di Maluku bertujuan untuk menyatukan hati dan tekad untuk menghentikan kekejaman, sebagaimana dituturkan oleh Suster Brighita dari Maluku, gerakan ini lahir pada tahun 1999, “kami menantang TNI untuk jangan mempermalukan TNI di mata dunia.” Dari tanah Maluku, gerakan ini kemudian menghidupkan kepedulian yang tidak hanya bersifat lokal tapi juga menyebar kepada saudari-saudari di Aceh dan Poso yang juga mengalami peristiwa konflik.

Dari mereka yang awalnya lemah,menjadi korban dan traumatik, melalui pendekatan yang holistik dan integral, perempuan Maluku dapat tampil dan melakukan perubahan, dengan tiga kunci utama, yaitu “mau damai kita butuh komitmen”, “seia sekata seiring sejalan damai harus dibangun di Maluku” dan “jangan ada dusta diantara kita.”