Bakudapa ala Monardo

Perdamaian membutuhkan sebuah proses. Pemimpin harus rutin mengadakan pertemuan antara mereka yang bertikai.

Jenderal bintang tiga ini jarang sekali terlihat begitu ekspresif. Tetapi di atas podium saat sarasehan nasional, ia memperlihatkan ekspresinya yang terdalam. Dengan mata berkaca-kaca, Letnan Jenderal Doni Monardo mengakui hasil indeks kemiskinan di Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik.

Tingkat kemiskinan menurut pulau di Indonesia sampai September 2017 masih terpusat di Indonesia bagian Timur, yakni Maluku dan Papua dengan persentase 21,23 persen.

“Ironis Maluku nomor tiga termiskin di Indonesia. Padahal saat VOC masuk Indonesia, mereka paling banyak mengambil rempah-rempah dari Maluku. VOC saat itu salah satu perusahaan dagang terkaya di dunia. Artinya saat itu kekayaan Maluku luar biasa,” kata Doni emosional.

Ia memaparkan betapa luas, besar, dan indahnya Pulau Maluku. Memiliki 2.200 pulau, dengan luas delapan kali Pulau Bali. Keindahan laut Maluku juga luar biasa dan lebih terang, karena tidak ada kotoran dan sedimentasi. Namun, orang lebih mengenal Raja Ampat, Bunaken dan sebagian di Sulawesi Tenggara.

Potensi ikan nasional pada 2017 sebesar 12,5 juta ton, dari jumlah itu, Maluku menyumbang 3,4 juta ton, Maluku Utara menyumbang 1,25 juta ton. Namun belum ada yang mengolahnya secara maksimal.

“Tidak ada di dunia yang dapat memroduksi ikan secara banyak, hanya ada di Maluku dan Maluku Utara,” kata mantan Panglima Kodam Pattimura pada 2015-2017.

Ia berharap kelak ada keramba raksasa di Maluku yang dapat, melepaskan satu miliar benih, dan pemberdayaan masyarakat dengan benih jenis ikan kerapu. Dengan begitu, tidak ada masyarakat yang tidak memiliki penghasilan yang luar biasa.

Program ‘emas hijau’ yang digagasnya dengan tingkat kesuburan yang baik, semestinya Maluku dapat memebrikan lapangan pekerjaan. Kayu misoya sebagai kayu penghasil parfum terbaik ada di Pulau seram. Begitu pula dengan rempah-rempah, cengkeh, pala, lada ada di Maluku.

Doni menceritakan, pada saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Maluku pada 28 Februari 2017, bertanya kepadanya. “Untuk apa keramba ini?”

Ia menjawab, “Ini alat bagi TNI untuk meng hasilkan ‘emas biru’ agar dapat menyelesaikan konflik di Maluku dan Maluku Utara. Tentara tidak menggunakan senjata, karena stigma pelanggaran hak asasi manusia dan mengubah menjadi ‘emas putih’ (memberikan kenyamanan dan kesejahteraan).”

Harapannya dalam lima tahun ke depan, Maluku dan Maluku Utara, selain tingkat kebahagiannya yang tinggi, kesejahteraannya juga semakin meningkat. “Jangan lagi ada konflik yang dapat membuat Maluku semakin miskin. Maluku harus kaya.”

Komunikasi

Salah satu konflik terbesar yang terjadi di Indonesia adalah konflik di Maluku pada 1999 lalu. Diakui Sekjen Wantannas, Letjen Doni Monardo, konflik di Maluku memang sudah usai, namun harus tetap waspada.

“Bukan tidak mungkin kasus tersebut terulang, tetapi kita yakin jika menjaga komunikasi memberikan solusi dan merangkul mereka dengan sesuatu hal yang bermanfaat, semua akan aman,” terang mantan Komandan jenderal Kopassus itu.

Pada acara sarasehan yang dihadiri sekitar 500 orang tersebut, tak pelak mem bahas masalah konflik berbasis sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA. Konflik yang pernah mengoyak harmoni di Maluku. Pecah di awal 1999, konflik berkepanjangan ini menyisakan luka.

Rakyat dan segenap pemangku kepenting an di Maluku, berupaya keras mengubur sejarah kelam itu dalam-dalam. Segenap upaya dilakukan guna mencegah terulangnya konflik. Seruan katong samua basudara, kita semua bersaudara, terus didengungkan.

Namun, potensi konflik itu belum hilang sepenuhnya. Masih ada sisa konflik di Bumi Maluku, baik horizontal antar-warga, bahkan vertikal yang bernada separatis. Sedikit banyak potensi konflik bak api dalam sekam.

Begitu dilantik menjadi pangdam pada pertengahan 2015, sehari kemudian Doni langsung berkeliling ke daerah-daerah konflik. Temuannya, masih ada potensi konflik sosial. Namun menariknya, warga sudah lelah, dan minta didamaikan, seperti yang terjadi di Morela dan Mamala, Maluku Tengah.

Lulusan Akademi Militer 1985 itu memetakan masalah seraya mencari solusi bagaimana merajut tenun kerukunan di Maluku. Alhasil, lahirlah program ‘Emas Biru dan Emas Hijau’.

Emas-emas itu tak lain adalah potensi Maluku, yang dulu membuat para penjelajah berdatangan mendapatkannya, yakni potensi dalam bumi dan lautnya. Sejarah mencatat, penjelajah luar begitu terpikat dengan rempah-rempah Maluku.

Emas Hijau pun menjadi sebutan hasil-hasil pertanian, perkebunan, dan peternakan Maluku. Adapun Emas Biru untuk menyebut potensi dari laut Maluku.

Doni dan jajarannya mengajak rakyat Maluku kembali ‘menambang’ emas-emas itu, sekaligus melupakan sekat-sekat perbedaan dan menepis konflik.

Mengatasi masalah konflik, lanjut mantan Panglima Kodam Siliwangi itu, tidak harus dengan senjata melawan senjata. Solusinya, ternyata bisa dengan program-program yang memajukan di segala bidang,” ungkap Doni.

Menurutnya, salah satu kuncinya adalah bakudapa (saling bertemu dan berkomunikasi). Perdamaian membutuhkan sebuah proses. Pemimpin harus rutin mengadakan pertemuan antara mereka yang bertikai.

“Mereka bisa berkomunikasi secara langsung dan diharapkan mampu mempererat hubungan mereka. Itulah manfaat bakudapa,” tutup Sekjen Wantannas, Doni Monardo.

Testimoni

Dalam sarasehan Wantannas pada 10-11 Juli 2018 di kawasan Kuningan Jakarta Selatan itu, mengusung tema ‘Merawat Perdamaian: Belajar dari Resolusi Konflik dan Damai di Maluku dan Maluku Utara untuk Indonesia yang Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur” .

Wantannas merupakan lembaga yang mempunyai tugas membantu presiden dalam menyelenggarakan pembinaan ketahanan nasional guna menjamin pencapaian tujuan dan kepentingan nasional Indonesia.

Sarasehan merupakan bentuk ‘bakudapa’ untuk mempertemukan dan mendengarkan pendapat atau saran. Pendapat dari ahli atau pelaku peristiwa dalam bidang tertentu untuk memecahkan atau menuntaskan suatu masalah yang terjadi.

Sekaligus testimoni dari para pelaku lapangan saat konflik komunal terjadi dan melakukan upaya perdamaian dan akhirnya bersatu.

Berformat diskusi terbuka melibatkan sejumlah pemangku kepentingan di Kepulauan Maluku, khususnya para pihak yang pernah terlibat dalam konflik sekaligus menjadi tokoh-tokoh perajut perdamaian, tokoh-tokoh agama, pemuda, pendidikan, pemimpin daerah, termasuk sejumlah guru besar.

Profesar Salin Said memberikan penilaian positif terhadap figur Doni dalam penempatan tugasnya di sejumlah wilayah. Dimana dia ditempatkan memberikan manfaat yang lebih, termasuk untuk kesejahteraan masyarakat dan lingkungan hidup.

“Di Jakarta saat menjadi Danjen Kopassus dengan program Ciliwung di Maluku dan Maluku Utara dengan emas hijau dan biru, dan di Jawa Barat dengan program Citarumnya. Itu kelebihan Jenderal Doni.

  • OLEH SELAMAT GINTING

 

Sumber : Teraju, Republika