Memahami Manajemen Krisis Siber dalam Bingkai Ketahanan Nasional

Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Republik Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Konrad-Adenaur-Stiftung (KAS) mengadakan latihan simulasi bersama insiden siber, Selasa (24/7) di Hotel Grand Hyatt, Jakarta. Hadir sebagai pembicara, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara, Mayjen TNI (Purn) Dr.Djoko Setiadi, menyampaikan pemaparan dengan topik “Manajemen Krisis: Keamanan Siber untuk Menangani Insiden Siber Dalam Rangka Ketahanan Nasional.”

 

Dalam paparannya, Setiadi menekankan, sama seperti krisis lainya, “ancaman siber dapat datang dari berbagai sumber, mulai dari negara, hacktivist, kriminal siber, perusahaan, teroris siber sampai aktor internal. Krisis siber adalah konsekuensi ketika insiden keamanan siber sudah tidak dapat dikendalikan, bila terjadi dalam skala besar dan terkoordinasi makan akan menyebabkan atau berpotensi mengakibatkan gangguan berskala luas dan mengganggu infrastruktur.”

Untuk melengkapi paparan, BSSN juga memberikan dua contoh studi kasus, pertama adalah studi kasus yang diambil dari Krisis Siber Estonia tahun 2007, yang menyerang layanan internet Estonia melalui serangan DDoS (Distributed Denial of Service) dengan target layanan e-government dan sistem keuangan. Studi kasus kedua diambil dari Kasus Stuxnet Worm Iran tahun 2010 dimana virus Stuxnet menyerang dan menginfiltrasi fasilitas-fasilitas nuklir termasuk Natanz.

 

Rekomendasi yang disampaikan oleh BSSN adalah terus meningkatkan kerjasama dan kolaborasi antara pemerintah, publik dan swasta baik di level regional dan internasional. Selain itu juga penting untuk membangun pemahaman dan komitmen bersama diantara para stakeholders dan meningkatkan kemampuan investigasi dan intelijen siber.