Jika Teknokrat Bersatu, Indonesia Emas 2045 Akan Terwujud

Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Setjen Wantannas) dan Dewan Riset Nasional (DRN) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) dan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI mengadakan kunjungan dan peninjauan fasilitas riset di Puspiptek, yang berada di wilayah Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan pada Senin (06/8/2018).

 

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Menristekdikti Mohamad Nasir, dan Ketua DRN Bambang Setiadi.

 

Pada kunjungan tersebut, Sesjen Wantannas Letjen TNI Doni Monardo memaparkan tentang tugas dan fungsi Wantannas. Selain itu, Sesjen juga memaparkan tentang kondisi realita yang berkembang saat ini.

 

Dalam paparannya tentang spektrum ancaman, Sesjen menegaskan bahwa saat ini kita tidak menghadapi perang antar negara dengan mengangkat senjata, namun yang paling nyata dihadapi bangsa kita saat ini adalah kemiskinan, lingkungan, kesehatan, dan perang dagang. Saat ini suatu negara akan berupaya menguasai berbagai macam potensi di negara lain dan meningkatkan inovasi untuk kemajuan bangsanya.

 

Sesjen berharap agar kedepan para teknokrat bisa bersama-sama dan bahu membahu untuk menciptakan inovasi-inovasi untuk kemajuan bangsa Indonesia.Sesjen optimis harapan Indonesia emas tahun 2045 akan terwujud apabila seluruh teknokrat dan semua elemen bangsa bersatu untuk mewujudkannya.

Pada kesempatan yang sama, Menristekdikti saat membuka acara mengatakan bahwa Puspitek adalah kawasan strategis untuk riset Indonesia di masa depan. Ia menyampaikan bahwa pemerintah mendorong agar riset ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berhenti pada produk invensi namun harus berujung pada produk inovasi.

 

Sementara itu, Presiden RI ke tiga BJ. Habibie dalam sambutannya menuturkan, tidak ada satu produk yang ditentukan oleh satu desain, sebab menurutnya, teknologi berorientasi kepada proses pembudayaan dan pendidikan.

 

“Pembudayaan mulai pada saat kita masih berada di dalam rahim ibu, contohnya melalui pembelajaran tentang agama,” kata BJ Habibie.

 

Habibie mengungkapkan, yang dibutuhkan untuk menjadikan Indonesia maju adalah teknologi. Masyarakat tidak usah mengutak-atik lagi dasar negara. “Pancasila itu is the best,” cetusnya.

 

Dia mengungkapkan Presiden Soekarno sejak awal sudah mengetahui kalau teknologi yang bisa membuat Indonesia maju. Itu sebabnya, Soekarno memusatkan perhatiannya pada teknologi pesawat dan kapal laut, yang kemudian dilanjutkan oleh Presiden ke-2 Soeharto.

 

“Saya ingat perintah Pak Harto waktu itu, saya disuruh bikin pesawat, tapi bukan pesawat untuk militer. Pak Harto minta saya bikin pesawat untuk prasarana ekonomi dan melindungi pantai Indonesia,” tuturnya.

Habibie menambahkan, Indonesia butuh pesawat terbang untuk mengamankan wilayah. Hanya Amerika Serikat yang sudah memikinya tapi Indonesia bisa asalkan pemerintah fokus pada teknologi pesawat terbang.

 

Pendiri Puspiptek ini menerangkan, bahwa yang ia mau adalah sebuah strategi dan inovasi dalam teknologi. Oleh sebab itu, dirinya berjuang untuk mendirikan Puspiptek sebagai tempat inovasi dan kolaborasi antar para ilmuwan.

 

Pada kunjungan ini, Sesjen Wantannas didampingi oleh para Deputi, Staf Ahli, Pembantu Deputi , dan Analis Kebijakan di lingkungan Setjen Wantannas.