Setjen Wantannas Terima Kunjungan dari BATAN

Setjen Wantannas yang diwakili oleh Staf Ahli Bid. Iptek Dr. Ir. Hendri Firman Windarto, M.Eng. dan Staf Ahli Bidang Hankam Mayjen TNI Toto Siswanto, S.IP., M.M. menerima perwakilan tim teknis dari Badan Tenaga Nuklir Nasional di Kantor Setjen Wantannas Jl. Juanda No. 36 Jakarta Pusat, Selasa (08/08/2018).

 

Dalam kesempatan tersebut tim teknis Batan diwakili oleh Mudjiono, Siti Alimah, Dimas Irawan, M. Busthomi, dan Heni Susiati. Pertemuan tersebut guna membahas rencana kajian sosial dalam mencapai rekayasa sosial.

 

Tim teknis Batan menyampaikan bahwa saat ini sebaran penduduk diwilayah Tangerang Selatan (Tangsel) yang semakin padat dan merata dalam penyebarannya menjadi permasalahan dalam rencana pembangunan PLTN RDE (Reaktor Daya Eksperimental). Mereka meminta saran dan masukan kepada Setjen Wantannas terkait dengan rencana pembangunan RDE dalam menghadapi masyarakat di sekitar kawasan khususnya wilayah Tangerang Selatan.

 

Dalam mengadakan sosialisasi tim teknis tidak bisa menjangkau sampai ke wilayah lebih luas. Tim teknis RDE berharap penjelasan mengenai nuklir tersebut bukan langsung dari tim tetapi dari keterlibatan TNI – Polri dan LSM yang langsung berhadapan dengan masyarakat di lapangan dan Tim RDE hanya sebagai sumber info.

 

Hal ini dikarenakan adanya kekhawatiran dari masyarakat yang beranggapan bahwa tim menyembunyikan bahaya nuklir demi kepentingan sebuah proyek. Sementara itu kondisi wilayah Tangsel sangat padat dan masyarakat disekitar Puspiptek masih belum mengetahui sejarah awal berdirinya Puspiptek dan reaktor yang ada di sana.

 

Untuk melibatkan aparat dalam sosialisasi kepada masyarkat, Setjen Wantannas merasa perlu ada bimbingan pengetahuan terlebih dahulu kepada aparat di wilayah teritorial terkait pemahaman dan pengetahuan tentang energi nuklir.

 

Setjen Wantannas berharap strategi sosialisasi kepada masyarakat dalam pemanfaatan nuklir sebagai energi listrik harus diimbangi dengan kebutuhan manfaatnya kepada masyarakat, sehingga mereka bisa merasakan hasil dari proyek tersebut, bukan langsung tentang nuklirnya namun menyesuaikan dengan bahasa industri dan ekonomi.