Pembenahan Citarum Perlu Kontribusi Akademisi

Sekjen Dewan Ketahanan Nasional Letjen TNI Doni Monardo/GILANG ARDIANA RASSYID
SEKJEN Dewan Ketahanan Nasional Letjen TNI Doni Monardo menyampaikan orasi ilmiah pada Sidang Terbuka Senat Universitas Pasundan dalam rangka penerimaan mahasiswa baru 2018 di Gedung Sabuga, Sabtu, 25 Agustus 2018.*

BANDUNG, (PR).- Perguruan tinggi berperan mencetak sumber daya manusia dan menemukan teknologi yang berguna untuk mengelola sumber daya alam. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan akan menjadi tantangan kemajuan Indonesia.

 

Sekjen Dewan Ketahanan Nasional Letjen TNI Doni Monardo menyampaikan hal itu dalam orasi ilmiahnya pada Penerimaaan Mahasiswa Baru Universitas Pasundan tahun 2018 di Gedung Sabuga, Sabtu 25 Agustus 2018.

 

Ia mengatakan, Indonesia hari ini dan di masa mendatang akan menghadapi tantangan yang tidak mudah. Ancaman terberatnya bukan lah militer. Antara lain pengelolaan sumber daya manusia, pengelolaan sumber daya alam, masalah lingkungan hidup, ketahanan pangan, korupsi, terorisme, dan kejahatan transnasional.

 

“Sumber daya alam kita banyak yang tidak dikelola dgn baik. Kita punya sumber daya alam yang melimpah. Tapi itu bukan segala-galanya kalau tidak diimbangi peningkatan sumber daya manusia,” tuturnya.

 

Doni mengatakan, masalah lingkungan bisa menjadi ancaman yang merusak masa depan bangsa. “Masyaarakat susah menikmati air bersih. Berapa banyak uang yang keluar untuk air bersih? Karena suungai-sungai besar banyak tercemar,” katanya berorasi.

 

Termasuk Sungai Citarum yang disebut sebagai salah satu sungai terkotor di dunia. Sehingga menjadi sorotan media internasional.

 

Ia bercerita, pada sebuah pertemuan dengan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir, ia menyampaikan masukannya terkait kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mengirim mahasiswa ke daerah terpencil. Di sisi lain, pemerintah telah mengucurkan dana untuk pembenahan Citarum sebesar Rp 22 triliun selama 20 tahun terakhir.

 

“Padahal lima perguruan tinggi terbaik ada di Jabar. Saya dengar KKN nya di daerah perbatasan. Kenapa tidak difokuskan KKN di Citarum. Sehingga sekarang ada KKN tematik di Citarum,” tuturnya.

 

Pendidikan lingkungan masih rendah

 

Citarum harus segera dibenahi demi kelangsungan hidup masyarakat. Doni menyebut, nasib 27 juta jiwa warga Jabar bergantung di Citarum, ditambah lagi sedikitnya 10 juta warga Jakarta. Sementara kerusakan Citarum terjadi dari hulu hingga hilir.

 

“Tahun 2009 ada 300 mata air di kawasan penyangga Citarum. Tahun 2015 dilihat lagi tinggal 144 mata air. Kalau mata air tidak dijaga dan dirawat yang ada tinggal air mata,” tuturnya.

 

Ia mengakui, pendidikan lingkungan di masyarakat masih rendah. Masyarakat membuang sampah langsung ke sungai. Pengusaha juga membuang limbah ke sungai. Padahal hal itu berdampak pada kesehatan masyarakat. Uang negara tersedot Rp 9 triliun untuk BPJS. Di Jabar saja sudah menghabiskan Rp 1,9 triliun. “Sebagian besar untuk (pengobatan) masyarakat di DAS Citarum,” ujar Doni.

 

Ia mengatakan, perlu sumber daya manusia yang mumpuni untuk membenahi Citarum. Perlu riser perguruan tinggi untuk menemukan format terbaik agar menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten untuk mengelola sumber daya alam. “Kita hidup di DAS Citarum, mari berkomitmen untuk menjadikan Citarum sungai terbersih di dunia,” tutur Doni.

 

Rektor Unpas Eddy Jusuf mengatakan, Doni didaulat untuk memberi orasi ilmiah karena perannya sebagai inisiator program Citarum Harum. “Unpas sebagai bagian dari penthahelix harus merespons kegiatan-kegiatan yang dilakukan pemerintah,” katanya.

 

Mahasiswa baru

 

Sebagai kontribusi pada lingkungan, Unpas menanam pohon alpukat di hulu Citarum, yakni Cibereum, Kertasari, dan Cisanti. Tahun ini akan ditanam sekitar 22.000 biji alpukat sumbangan dari sekitar 4.045 mahasiswa baru Unpas tahun 2018 sebagai upaya penguatan daerah aliran sungai.

 

Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Unpas Makbul Mansyur mengatakan, tahun ini terdapat 139 mahasiswa asing dari 11 negara di Eropa, Afrika, dan Tiongkok. “Unpas bukan lagi milik Jabar, bukan hanya milik Indonesia, tetapi milik dunia,” katanya.

 

Ketua Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi mengatakan, Unpas sudah berjalan di jalur yang benar. “Kami bangga karena Unpas menjadi yang terbesar di Jawa Barat,” katanya.***

 

Sumber : Pikiran Rakyat