Setjen Wantannas Dorong Pembangunan Pos Lintas Batas RI-Timor Leste

Kawasan perbatasan sebagai garda terdepan yang berhadapan langsung dengan negara-negara tetangga mendapat perhatian serius dari pemerintah. Melalui program Nawacita ke-3 yakni “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan” Pemerintah berupaya membangun kawasan perbatasan menjadi lebih baik.

 

Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) Maluku, yang berbatasan dengan Timor Leste menjadi salah satu perhatian Setjen Wantannas yang perlu didorong pembangunannya. Selain memiliki posisi strategis dengan negara tetangga, kedua Kabupaten tersebut mempunyai keunikan alam serta perikanan tangkap yang dapat dikelola menjadi keunggulan komparatif.

 

Menciptakan keunggulan komparatif perlu dukungan infrastruktur diantaranya fasilitas Pos Lintas Batas Negara (PLBN) sebagai kawasan terpadu yang mampu memberikan pelayanan Customs Immigration Quarantine and Security (CIQS), prasarana permukiman (air minum, perumahan, hotel, dan lain-lain), prasarana perekonomian (pasar, bank, pertokoan, promosi produk/jasa), dan infrastruktur perhubungan/transportasi, energi, sumberdaya air, dan telekomunikasi.

 

Dalam upaya mendorong pembangunan tersebut, Setjen Wantannas mengadakan rapat koordinasi dengan pihak-pihak terkait yang berlangsung di ruang Sittuation Room Kantor Setjen Wantannas Jalan Medan Merdeka Barat. No.15 Jakarta Pusat.

 

Dalam sambutannya, Sesjen Wantannas Letjen TNI Doni Monardo mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan peninjauan langsung ke dua daerah tersebut. Kedua daerah tersebut menyimpan banyak sekali potensi daerah yang sebenarnya bernilai mahal di pasar dunia.

 

“Kayu cendana saat ini harganya sangat mahal di pasar dunia, kayu ini hanya ada di India dan Indonesia serta di beberapa kawasan Pasifik. Namun kualitas cendana terbaik ada di Pulau NTT, akan tetapi pembudidayaannya masih tidak terencana dengan baik. Jika saja dulu kita menanam cendana dan katakanlah setiap penduduk disana punya  minimal 1000 batang cendana, maka hari ini masyarakat NTT yang punya cendana bisa masuk kategori orang yang paling sejahtera. Karena harga 1 kg cendana saat ini  mencapai 700 ribu rupiah”, ujar Sesjen.

 

Sementara itu Bandep Urs. Lingpemneg Setjen Wantannas Brigjen TNI Rido Hermawan, M.Sc dalam paparannya mengatakan bahwa lokasi PLBN yang ada saat ini belum beroprasi secara maksimal. Menurutnya apabila PLBN tersebut telah dibuka, maka akan memberikan interaksi dengan kemungkinan potensi pasar yang terbuka di Timor Leste. Beberapa pos memang sudah ada disana, namun masih kekurangan personil sehingga banyak pos yang kosong. Sementara itu, banyak warga disana yang tidak mau disebut penduduk pulau terluar, namun mereka lebih bangga disebut garda terdepan NKRI. Oleh karena itu, pemerintah harus betul-betul memperhatikan pembangunan disana, jangan sampai ada rasa terabaikan oleh pusat sehingga bisa mengikis nasionalisme mereka dan membuat mereka pindah ke negara tetangga.

 

Hadir dalam rapat tersebut perwakilan dari Kemen PUPR, Kemenhub, KKP, Kemenlu, Kemenkum & HAM, Kemen ATR/PBN, BNPP, Imigrasi, serta perwakilan dari Komisi V DPR-RI.