Program Bela Negara Harus Bisa Menjadi Kultur dan Karakter Bangsa Indonesia

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Letjen TNI Doni Monardo memaparkan progres modul bela negara kepada Menteri Koordinator Bidang Politik , Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto di ruang rapat utama Kantor Kemenko Polhukam Jakarta, Kamis (25/10/18). Sesjen Wantannas dalam rapat ini di dampingi oleh para Deputi, Sahli, dan Kepala Biro.

 

Dalam paparannya, Sesjen Wantannas menjelaskan bahwa konsep bela negara yang sedang disusun oleh Setjen Wantannas lebih menekankan pendekatan kesejahteraan masyarakat berbasis kearifan lokal.

 

“Masih banyak potensi lokal yang belum bisa dioptimalkan karena keterbatasan sumber daya manusia di Indonesia. Lewat program bela negara ini, diharapkan potensi lokal yang ada di daerah nantinya tidak dijual dalam bentuk mentah ke luar negeri, namun bisa diolah oleh pemerintah daerah setempat sehingga bisa bernilai tinggi,” ujar Sesjen.

Sesjen Wantannas juga berharap dengan program bela negara ini nantinya bisa menyadarkan masyarakat agar bisa menjaga kewibawaan kepala negara. Dimana saat ini semua orang bisa berbicara melalui media sosial tanpa dibatasi.

 

Program bela negara ini juga akan melibatkan berbagai unsur yang terlibat baik itu pemerintah, akademisi, pengusaha, dan media. Sesjen mengharapkan media bisa ikut membantu mensosialisasikan serta memberitakan hal-hal positif untuk masyarakat. Hal ini untuk mendorong kebanggaan berbangsa dan bernegara.

 

Sementara itu Menko Polhukam Wiranto dalam tanggapannya menginginkan agar bela negara ini bisa menjadi kultur atau karakter, sehingga hasilnya nanti setiap warga negara merasa memiliki, mencintai, dan wajib membela bangsanya.

 

Ia menilai konsep bela negara ini harus bisa menjadi metoda untuk memberi pencerahan dan dapat memberikan ajakan serta menyadarkan akan kewajiban warga negara terhadap negaranya. Selanjutnya konsep ini akan kita uji apakah aplicable bisa dilaksanakan dan sustainable bisa berlanjut.