Tengok Kiprah Zahlul, Atlet Muda Sidoarjo Bangun Sekolah Berkuda

Zahlul Yussar usai berlatih di sekolah berkuda miliknya. (Foto: Suparno/detik.com)

Sidoarjo – Umurnya masih muda, 21 tahun, namun kiprahnya dalam olahraga yang ditekuninya tidak dapat disepelekan. Hal ini dibuktikan dengan mendirikan sekolah berkuda yang terjangkau bagi semua.

 

Zahlul Yussar memahami jika berkuda masih identik dengan olahraganya orang berduit. Ia sendiri adalah seorang atlet berkuda terkemuka di Jatim. Padahal baginya, berkuda hanyalah soal ketangkasan dan keterampilan mengendalikan kuda.

 

Pemuda Desa Ketegan, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo ini lantas mendirikan Yussar Horseriding School pada tahun 2015. 

 

“Kami mendirikan sekolah berkuda, khususnya kuda tunggangan atau ekuestrian untuk merubah imej bahwa olahraga berkuda bukan untuk orang-orang yang berduit saja,” kata Zahlul kepada detikcom di sekolahnya yang terletak di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Jumat (26/10/2018).

 

Zahlul juga mengaku prihatin dengan minimnya atlet berkuda. Apalagi dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk bisa berlatih berkuda, olahraga ini pun jadi jarang diminati.

 

Tak banyak basa-basi, ia mendirikan sekolah ini dengan koceknya sendiri, terutama dari bonus-bonus kejuaraan yang dimenangkannya. “Ada bantuan dana kompensasi pembinaan dari KONI Sidoarjo perbulan Rp 3 juta juga, tapi ini juga tidak cukup,” katanya.

 

Ia juga membeli sendiri kuda-kuda yang digunakan di sekolah ini. Total ada 8 kuda yang dapat dipakai oleh para siswa.

 

Foto: Suparno (detik.com)

“Dalam satu bulan bisa habis sekitar Rp 40 juta untuk membayar satu dokter hewan, 7 pekerja dan ngasih makan 8 kuda, dan satu pelatih,” paparnya.

Namun karena besarnya kecintaan Zahlul pada olahraga ini, semuanya dijalani dengan senang hati. 

 

Menariknya, siswa-siswa di sekolah berkuda ini justru kebanyakan adalah anak-anak. “Kalau melatih anak-anak itu tidak ada kendala. Hanya perlu kesabaran, ketelatenan dan sering mengingatkan mereka,” tandasnya.

 

Menurut Zahlul, butuh waktu 3-4 bulan untuk seorang anak agar bisa mengendalikan kuda dengan lancar. Namun agar bisa benar-benar menunggangi kuda dan kompak dengan kudanya bisa membutuhkan waktu lebih lama dari itu. Untuk itu, yang terpenting dari atlet berkuda adalah latihan setiap hari dan mengenal kuda dengan baik karena ketika kejuaraan dimulai, harus ada kerjasama antara kuda dan penunggangnya.

 

“Siapa saja yang ingin menjadi atlet kuda tunggangan, silahkan datang. Tidak perlu membawa kuda, jangan takut biaya. Yang penting gabung dulu dan kejar prestasi,” ajak Zahlul.

 

Foto: Suparno (detik.com)

Dari pengakuannya, para siswa hanya perlu membayar iuran bulanan sebesar Rp 80 ribu untuk 4 kali pertemuan dalam sepekan. Selebihnya siswa akan ditempa dengan baik sampai benar-benar bisa, bahkan berprestasi.

 

Usahanya pun tak sia-sia. Meski baru tiga tahun berdiri, kini sekolah berkuda yang dipimpin Zahlul telah menghasilkan 40-an atlet kuda tunggangan (ekuestrian).

 

Beberapa di antaranya telah menjuarai berbagai perlombaan kuda tunggang atau ekuestrian di berbagai kota. Salah satunya adalah Bintang (11). Bintang telah diakui sebagai salah satu atlet kuda tunggang junior di Jatim. Meski begitu, ia tak bosan berlatih.

 

“Akan berlatih terus, berharap menjadi atlet yang terbaik. Saya akan terus berlatih agar berprestasi seperti kakak Zahlul,” aku Bintang.

 

Bicara tentang prestasi, Zahlul sudah beberapa kali mengikuti kejuaraan internasional, termasuk SEA Games, meski gagal menyumbangkan medali untuk Indonesia. Yang terbaru, ia baru saja menjuarai D’Paragons Competition di Yogyakarta dengan raihan tiga medali dari kelompok preliminary open (perunggu), Show Jumping 90 cm (emas), dan Show Jumping 90-100 cm (emas).

 

“Meskipun kemarin baru datang dari Yogyakarta, hari ini langsung latihan karena selain persiapan PON 2019 di Papua bulan depan ada kejuaraan lain di Banten dan mewakili Indonesia kelompok umur 21 ke Dubai,” tutupnya.

 

Sumber : detik.com