Tim Siliran Jogja Jawarai Jemparingan SIPAS 2018

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo mencoba memanah target di sela-sela kejuaraan SIPAS Solo Open Archery Competition 2018 yang berlangsung di Benteng Vastenburg, Solo, 1-4 November | AKURATCO/Puji Wijayanti

AKURAT.CO, Tim Siliran Jogjakarta berhasil memboyong piala bergilir Walikota Solo usai keluar sebagai juara dalam SIPAS Solo Open Archery Competition 2018 kategori jemparingan atau tradisi bandul yang digelar di Benteng Vastenburg, Solo, 1-4 November 2018.

 

Ketua Harian Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Solo, Idya Putra Harjianto mengatakan, tahun ini kompetisi berjalan lebih ketat sehingga memunculkan juara-juara baru dari daerah.

 

“Kalau yang tahun lalu juara umumnya tim tuan rumah, Kridho Hasto dengan menyabet juara di dua ronde, baik jemparingan maupun nasional. Tapi tahun ini juara masing-masing ronde beda. Kalau jemparingan dari Jogja, yang nasional dari Bandung, Tim Vieneth Archery Club,” jelas Idya.

 

Hal itu jelas membahagiakan pihaknya selaku panitia. Sebab ini menandakan perkembangan olahraga panahan semakin bagus. Terlihat dari hasil perolehan medali, hampir tiap tim mendapatkan medali. Sehingga tidak ada tim yang mendominasi seperti pelaksanaan tahun lalu.

 

“Sekarang lebih menarik dan ketat persaingannya. Ini menandakan jika tim-tim yang ikut itu sudah mempersiapkan atlet-atletnya untuk turun di even kedua ini. Dan perkembangan panahan semakin bagus,” paparnya.

 

Selain sisi prestasi, semakin banyaknya peserta dari luar kota yang berpartisipasi dalam kompetisi ini juga menandakan bahwa tidak hanya provinsi Jawa Tengah dan Jogjakarta saja yang mulai melakukan pembinaan atlet panahan, khususnya panahan tradisi atau jemparingan.

 

Pasalnya, karena hal itulah yang membuat Jemparingan tak lagi dilagakan di Pekan Olahraga Nasional semenjak pelaksanaan di Kalimantan Timur 2008 silam.

 

“Dulu dicoret karena jemparingan yang menang hanya dua provinsi. Sehingga provinsi lain keberatan jemparingan dimasukkan cabor PON,” sambung Idya.

 

“Tapi kalau lihat peserta SIPAS Solo Open tahun ini ada yang datang dari Sumatera dan Bali tentunya menjadi sinyal positif bagi perkembangan jemparingan. Kami harap bisa kembali masuk nomor di PON. Dan untuk pemerataan kemampuan kami siap membantu kontingen dari luar Jawa.”

 

FX Hadi Rudyatmo. AKURATCO/Puji Wijayanti

Sementara itu, Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo mengatakan seharusnya jemparingan tetap dilestarikan dan dilombakan. Sebab hal itu merupakan cara agar jemparingan sebagai bagian dari tradisi tidak punah dan semakin dikenal masyarakat hingga bisa populer.

 

“Ini agar terjaga kelestarian sebagai salah satu peninggalan leluhur bangsa. Ini sangat unik, karena peserta memakai busana adat dan busur tradisi tanpa alat bantu,” jelas FX Hadi Rudyatmo.

 

Jemparingan sendiri memang merupakan olahraga tradisi peninggalan Kerajaan Mataram. Yang membedakan olahraga ini dengan panahan standar nasional adalah peserta menggunakan busur polosan dari kayu tanpa alat bantu apapun.

 

Kemudian sasaran yang dipakai bukan berbentuk bulat dengan nomor nilai, namun berupa boneka berukuran 30 centimeter yang terdiri dari kepala dengan nilai tiga, leher bernilai dua serta badan bernilai tiga.

 

Yang unik, sasaran berupa boneka ini digantungkan atau nggandul dalam bahasa jawa. Tak lupa peserta pun harus mengenakan busana tradisional, biasanya berupa surjan dan kain jarit panjang yang umumnya digunakan masyarajat Jogja tempo dulu.

 

Sumber : Akurat.co