Aceh Miliki Komoditi Unggulan Perdagangan Dunia

Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Aceh, Sesjen Wantannas melakukan paparan program emas hijau dan emas biru di Gedung Serba Guna Kantor Gubernur Aceh pada Jumat (23/11/2018).

 

Paparan tersebut dihadiri oleh 200 orang yang terdiri dari para pejabat provinsi, bupati-bupati, akademisi Unsyiah, Sekolah Perikanan Ladong, Unaya, USM, Unmuha, dan praktisi dunia usaha serta praktisi pertanian juga turut hadir dalam acara tersebut.

 

Sesjen mengatakan bahwa program emas hijau dan emas biru harus digarap dengan serius untuk mensejahterakan masyarakat Aceh yang saat ini tercatat sebagai daerah termiskin ke enam di Indonesia.

 

Iapun mengajak serta seluruh peserta memanfaatkan program tersebut dengan tujuan pemberdayaan perekonomian daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

“Posisi Aceh sangat strategis. Kita dekat dengan Timur Tengah juga dengan India dan Thailand. Hal ini berarti pasar untuk kita sangat terbuka dan masyarakat Aceh menjadi yang paling diuntungkan dengan situasi itu,” Ujar Sesjen.

 

“Untuk menjalankan program ini perlu metode pentahelik yakni kerjasama terpadu antara semua komponen yang ada, mulai dari pemerintah yang dibantu unsur akademis serta TNI-POLRI serta melibatkan dunia usaha hingga komunitas agar program tersebut bisa berjalan maksimal,” lanjut Sesjen.

Sesjen juga memaparkan data dari International Trade Center, bahwa hampir 1 triliun USD lebih perdagangan global merupakan komoditi yang hampir semuanya ada di Aceh. Seperti kayu yang perdagangan global mencapai 141 miliar USD. Aceh merupakan salah satu penghasil kayu terbaik.

 

Sesjen menjelaskan bahwa di Eropa masa panen kayu mencapai 40 tahun, hal ini menjadi peluang karena di Aceh hanya butuh waktu 10 tahun saja untuk bisa memanen kayu tersebut.

 

Selain itu, komoditi lain yang banyak terdapat di Aceh adalah bahan baku pembuatan parfum dan kosmetik, yaitu Nilam. Komoditi tersebut banyak diekspor ke Perancis dan nilai perdagangan globalnya mencapai 127 miliar USD. Segala bahan komoditi pendukung seperti cendana, gaharu, pinang, serai wangi, kayu manis hingga kemenyan disebut banyak terdapat di Aceh. Oleh karenanya, Sesjen meminta agar masyarakat dan pemerintah bisa memanfaatkan peluang yang ada sehingga berbagai komoditi tersebut bisa menjadi sumber pemasukan bagi masyarakat dan pemerintah.

 

Sektor perikanan dan peternakan juga menjadi komoditi yang bisa menjadi unggulan. Di Aceh, banyak terdapat lobster, udang air tawar hingga ikan karang yang punya kualitas super yang harganya sangat tinggi di pasar dunia. Karena itu, sinergitas seluruh pihak diminta perkuat, sehingga program untuk peningkatan perekonomian masyarakat bisa berjalan sukses.

 

Sesjen melanjutkan rangkaian kunjungannnya dengan memberikan kuliah umum di Universitas Syah Kuala yang berlangsung di gedung AAC Dayan Dawood dan dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa.