Pentingnya Pendekatan Humanis Untuk Menangani Konflik

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Letjen TNI Doni Monardo kembali menekankan pentingnya kesejahteraan untuk membentuk ketahanan nasional yang kuat.

 

“Tidak mungkin kita akan bisa sukses menjadi sebuah bangsa manakala kita tidak memiliki ketahanan nasional, saat ini kita menghadapi berbagai macam persoalan di tingkat regional dan global yang muaranya bukan lagi kepada ancaman militer tetapi ancaman nirmiliter,” ujar Sesjen Wantannas saat berbicara di acara penutupan Diskusi Panel Serial (DPS) yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI Polri (FKPPI) pada Sabtu (01/12/2018).

 

Sesjen Wantannas mengatakan bahwa ancaman tersebut tidak bisa hanya dihadapi oleh tentara maupun pemerintah saja, namun harus melibatkan semua komponen masyarakat.

 

Oleh karena itu, saat ini Setjen Wantannas telah menyusun sebuah konsep modul Bela Negara yang lebih kepada pendekatan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan instruksi Presiden Nomor 7 tahun 2018 tentang rencana aksi Bela Negara.

 

Letak Indonesia yang diapit oleh dua benua dan samudra menjadikannya sangat strategis, namun demikian Indonesia juga menghadapi ancaman dari alam karena berada dalam pertemuan dua lempeng dan pada kawasan cincin api yang setiap saat terjadi bencana. Atas dasar tersebut, setiap daerah wajib menyiapkan rakyatnya untuk menghadapi situasi terburuk ketika terjadi bencana.

 

Sesjen juga mengatakan bahwa pemerintah harus terus melakukan pendekatan humanis terhadap kelompok-kelompok yang sering berlawanan dengan pemerintah. Hal ini telah dibuktikannya saat dirinya menjabat sebagai Pangdam Pattimura dengan mempertemukan tokoh-tokoh yang dulu terlibat konflik serta memberikan pendekatan dengan cara pemberian bibit pohon, serta pinjaman motor untuk usaha terhadap bekas tahanan RMS yang telah bebas.

 

Sementara itu ketua umum FKPPI Pontjo Sutowo mengatakan bahwa DPS yang mengusung tema “Menggalang Ketahanan Nasional Untuk Menjamin Kelangsungan  Hidup Bangsa” kali ini merupakan DPS yang ke 18 sekaligus penutup.

 

Target utama dari DPS ini adalah untuk menimbulkan kesadaran, kepedulian, dan kewaspadaan kolektif bangsa Indonesia terhadap seriusnya berbagai bentuk ancaman yang dihadapi oleh bangsa dan negara dewasa ini sekaligus membangkitkan semangat untuk mau dan mampu mencegah, menangkal dan melawannya. 

 

Pontjo juga menambahkan bahwa masukan penting lainnya selama DPS ini bergulir adalah terbentuknya paradigma berpikir yang sudah seharusnya kita miliki terkait persoalan ketahanan nasional.