Setjen Wantannas Gelar Rembuk Nasional Pembinaan Bela Negara

Sekretariat Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) bekerjasama dengan Kemenko Polhukam dan Kementerian Pertahanan akan menggelar Rembuk Nasional Pembinaan Bela Negara yang dilanjutkan dengan Munas Penyusunan Program Bela Negara 2019 pada 17-20 Desember di Jakarta.

 

“Kegiatan ini untuk memberikan pemahaman dan menyatukan persepsi dalam pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Bela Negara pada 2019 di jajaran kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah,” ujar Kepala Satuan Tugas Bela Negara Setjen Wantannas Mayjen TNI Toto Siswanto S.IP. M.M, di Jakarta, Rabu (12/12).

 

Lebih Lanjut Mayjen Toto mengatakan, rembuk nasional yang diselenggarakan oleh Setjen Wantannas tersebut akan diikuti lebih dari 800 peserta dari seluruh tanah air yang terdiri atas unsur kementerian, lembaga pemerintah, lembaga nonstruktural, pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota.

 

Sebagai negara berkembang di berbagai sektor dengan potensi yang luar biasa, Mayjen Toto menegaskan Indonesia sangat memerlukan kesadaran bela negara untuk menghadapi berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.

 

“Pengertian bela negara sekarang tidak hanya diartikan sebagai gerakan mengangkat senjata dalam melindungi kedaulatan bangsa, tapi gerakan untuk menangkal berbagai ancaman multidimensi yang bias bersumber dari ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya,” katanya.

 

Pada peringatan Hari Bela Negara 19 Desember tahun lalu, Presiden RI Joko Widodo menurut Toto telah mengamanatkan perlunya mendefinisikan ulang apa yang dimaksud dengan bela negara.

 

Untuk mewujudkan itu,  sesuai dengan Surat Sekretariat Kabinet tanggal 3 Februari 2017, Presiden mengamanatkan bahwa masalah bela negara agar diberikan dan diperkuat penangannya kepada Wantannas dengan tidak membentuk lembaga baru.

 

“Indonesia butuh segera aksi nyata bela negara. Terlebih bagi generasi muda yang merupakan generasi penerus. Kita saat ini telah memasuki era yang memadukan perang konvensional, perang yang tidak teratur, senjata kimia dan juga perang informasi,” ujarnya.

 

Disadur dari Antaranews.com