Penyebaran Virus Bela Negara Harus Melibatkan Influencer Untuk Menyentuh Generasi Muda

(Foto: Humas Wantannas)

Rembuk Nasional Bela Negara yang diselenggarakan oleh Setjen Wantannas memasuki hari kedua. Acara yang digelar di Hotel Bidakara Jakarta Selatan dari tanggal 17 hingga 18 Desember tersebut memberikan penjelasan penyelenggaraan pelatihan perancang pendidikan dan pelatihan bela negara kepada para peserta.

 

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Dr. Ade Iva Murty, M.Si yang menjadi narasumber menjelaskan tentang bagaimana pembelajaran bela negara bisa terdesiminasi ke seluruh Indonesia tetapi juga tetap bisa terus dikembangkan konteksnya. Ia juga menjelaskan bahwa semua modul bela negara yang dikembangkan oleh Setjen Wantannas bersifat praktis tidak bergantung pada kekuatan militer.

 

Semua WNI punya hak dan kewajiban untuk mengembangkan bela negara, namun ada tiga pendekatan yang harus dilakukan untuk menumbuhkan rasa bela negara yakni pendekatan hak dan kewajiban, pendekatan karakter, serta pendekatan komunitas.

 

(Foto: Humas Wantannas)

Dalam hal pendekatan hak dan kewajiban bela negara harus menjadi basic values, bela negara harus menjadi nilai – nilai dasar. Bela negara juga harus menjadi away of thing. Sementara itu dalam pendekatan karakter harus terlebih dahulu mengetahui karakter bela negara, ada aspek moral, psikologis, sosiologis dan antropologis. Selain tersebar dalam masyarakat, karakter juga mendifinisikan manusia sebagai mahluk yang utuh, yang mengakar dalam keluarga, budaya masyarakat dan jejaring sosial, tambah Dr. Ade Iva Murty.

 

Dr. Ade Iva juga menginginkan agar dari kegiatan bela negara tersebut diharapkan bisa melahirkan fasilitator yang mampu menjadi influenser yang dapat menyebarkan virus bela negara, harus optimis, harus menjadi motivator, dan harus menjadi solidarity maker agar konflik tidak berkembang. Dengan demikian diharapkan penyebaran virus bela negara lebih cepat dan tersebar kemana-mana.

 

Dirinya menambahkan bahwa di era sekarang ini terutama generasi milenial, para influencer lah yang lebih didengar dibandingkan dengan tokoh-tokoh maupun orang tua.

 

(Foto: Humas Wantannas)

Sementara itu Kolonel Arh. Dr Budi Pramono menambahkan di era globalisasi saat ini, kompetisi antar negara akan semakin ketat. Memasuki era Revolusi Industri 4.0, Wantannas sudah memiliki road map untuk mengatasinya. Namun juga diperlukan suatu kreativitas dalam menghadapi semua masalah.

 

Ia juga berpesan kepada para peserta untuk tetap menjunjung tinggi law enforcement, serta mengutamakan kepentingan nasional.