Sesjen Wantannas Tutup Acara Rembuk Nasional Bela Negara

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasiona Letjen TNI Doni Monardo menutup acara Rembuk Nasional Bela Negara yang telah berlangsung selama dua hari dari tanggal 17 hingga 18 Desember 2018 di Hotel Bidakara Jakarta Selatan.

 

Dalam pidatonya, Sesjen mengucapkan terima kasih kepada semua undangan dan perwakilan Pemda serta semua tamu undangan yang sudah menyempatkan diri datang ke acara ini. Ia berpesan agar apa yg di dapat dalam acara ini bisa menjadi inspirasi bagaimana program bela Negara (Belneg) dapat diimplementasikan dengan baik dan benar, diterima oleh masyarakat, dan merasa bangga sebagai anak bangsa Indonesia.

 

“Hari ini saya sangat senang dan bangga terhadap semua peserta yang hadir di sini telah menyetujui konsep yang ditawarkan oleh Setjen Wantannas. Pada haripun Setjen Wantannas menerima banyak masukan dari berbagai sumber yang beraneka ragam dan  tentunya harus bisa diakomodir. Semoga harapan dari semua pihak dapat kita tampung dan diwujudkan pada program yang akan datang,” ujar Sesjen.

Sesjen kembali menghimbau agar bersama-sama dapat menjaga perasaan antar sesama, dan jangan sampai ada yang terluka karena ucapan. Karena semua hal kecil yang terkadang dianggap sepele justru bisa menjadi langkah awal bela negara yang dimulai dari hal kecil seperti tersenyum ketika saling menyapa.

 

Sesjen juga menekankan pentingnya kerja sama antar semua komponen bangsa, baik sipil maupun militer. Para pendahulu bangsa telah memberikan contoh ketika mereka bisa saling bekerja sama dengan segala keterbatasan yang dimiliki, tetapi bisa mewujudkan sebuah negara kesatuan Republik Indonesia. Ia berharap jangan sampai generasi muda yang menjadi harapan bangsa justru menjadi masalah yang mengakibatkan bangsa kita terpecah.

 

“Kita banyak membiarkan mata air yang berkurang nyaris mati, banyak sungai tercemar sehingga tidak dapat untuk minum dan menjadi pengairan. Air menjadi penghidupan, apakah kita layak dianggap negara yang beradab jika kita mematikan sumber air dan mencemari mata air,” ujarnya.

 

Ia kembali menekankan bahwa ancaman non militer sudah bukan potensial tetapi sudah menjadi factual. Perang dagang, barang-barang yang masuk ke Indonesia. Program bela negara tidak harus bergantung dari program pemerintah. “ kita tidak perlu banyak teori, tidak perlu mengatakan ini bukan tugas saya, lakukanlah apa yang dapat kita lakukan saat ini, semua kembali pada panggilan hati,” imbuhnya.

Diakhir sambutannya, Sesjen menegaskan bahwa program belneg harus menjangkau semua lapisan masyarakat hingga ke pelosok pedesaan. Program belneg bukan suatu yang abstrak, namun nyata dan harus dapat diwujudkan.

 

Sesjen juga mengajak kepada para peserta yang hadir untuk mewujudkan program bela negara. Bela negara akan mempersatukan rakyat Indonesia dan memakmurkan bangsa Indonesia.

 

Sementara itu dalam sesi penyampaian testimoni tentang kegiatan Rembuk Nasional Bela Negara, Sekretaris Daerah Aceh Tamiang  Ir. Razuardi mengapresiasi Setjen Wantannas dan penyusun modul belneg. Ia menyatakan bahwa membangun rasa bangga dan cinta bagi setiap orang Indonesia harus berkelanjutan. Bela Negara akan terwujud manakala kebutuhan dasar masyarakat terwujud (pangan, kesehatan, air minum) maka bela negara akan otomatis muncul karena kehadiran negara di tengah-tengah masyarakat.

 

Testimoni kedua dari Kaban Kesbangpol Maluku Demasialana sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Sesjen Wantannas, karena Sesjen Wantannas sudah mempraktekannya di Provinsi Maluku. Sesjen Wantannas mendamaikan desa disana dengan pendekatan humanis, serta menempatkan berdiri sama tinggi (rasa keadilan). Ia juga menyarankan agar kegiatan belneg dibuatkan payung hukum yang paten, karena belneg tidak akan pernah berhenti.

 

Testimoni selanjutnya dari Kesbangpol Papua Manase Kampuaya menyatakan bahwa acara ini sangat penting dan perlu berkesinambungan dan perlu mengundang anggota DPRD seluruh Indonesia. Sebelumnya ia beranggapan bahwa belneg ini merupakan kegiatan TNI dan Polri, namun faktanya ternyata tidak, dan hal ini sangat vital dan strategis untuk kelangsungan bangsa ini, khususnya di papua yang masih ada kelompok yang masih memiliki keinginan untuk memisahkan diri dari Indonesia.