Peristiwa 19 Desember: Hari Bela Negara hingga Jatuhnya Boeing 737-300 di Palembang

TNI (Ilustrasi)

JAKARTA – Deretan peristiwa pada 19 Desember mengisahkan sejarah yang melekat. Hari yang dipenuhi dengan perjuangan ini mengingatkan Hari Bela Negara yang bukan merupakan hari libur.

 

Pada tahun yang sama, Soekarno-Hatta ditangkap dan diasingkan oleh Belanda. Namun, pada tahun yang berbeda juga terdapat peristiwa-peristiwa bersejarah lainnya.

 

Berikut Okezone merangkum sederet peristiwa yang terjadi pada 19 Desember seperti dikutip dari laman Wikipedia.

 

Hari Bela Negara 1948

Hari bersejarah yang biasa disebut HBN ini mengingatkan deklarasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera Barat pada 19 Desember 1948. Penetapan ini dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 28 Tahun 2006. Pada Kepres itu juga disebutkan bahwa Hari Bela Negara bukan merupakan hari libur.

 

SEMARANG, 9/10 – HUT TNI. Sejumlah prajurit TNI berbaris sambil memegang senjata, saat mengikuti defile pasukan pada peringatan HUT ke-63 TNI, di lapangan Kodam IV/Diponegoro, di Semarang, Kamis (9/10). (FOTO: ANTARA)

Hari yang mana para pahlawan bangsa terdahulu mempertaruhkan jiwa raganya untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah-tengah guncangan Agresi Militer Belanda II.

 

Peringatan Hari Bela Negara ke-65 tepatnya pada 19 Desember 2012 dilakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Monumen Nasional Bela Negara di salah satu kawasan yang pernah menjadi basis PDRI dengan area seluas 40 hektare, tepatnya di Jorong Sungai Siriah, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

 

Soekarno-Hatta Ditangkap Tentara Belanda 1948

Bung Karno dan Bung Hatta diangkut oleh tentara Belanda pada 19 Desember 1948. Pada tahun yang sama, keduanya diasingkan ke Menumbing, Bangka. Hal ini dilakukan Belanda karena ingin menghapus Republik Indonesia dari peta dunia dan berkuasa kembali di tanah jajahannya.

 

Selain itu, Belanda juga memiliki tujuan utama atas penangkapan itu, yakni Belanda ingin membubarkan pemerintahan di Indonesia dan menghancurkan TNI. Dalam waktu singkat, pasukan Belanda berhasil menguasai Kota Yogyakarta kala itu.

 

Berdirinya Universitas Gadjah Mada 1949

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1949 tentang Peraturan Penggabungan Perguruan Tinggi menjadi Universiteit tanggal 16 Desember 1949, Pemerintah Republik Indonesia mendirikan Universitas Gadjah Mada yang merupakan universitas pertama didirikan oleh Pemerintah Republik Indonesia setelah Indonesia merdeka.

 

Akhirnya pada 19 Desember 1949 UGM berdiri di Bulaksumur, Yogyakarta dengan enam fakultas. Menurut Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949 juga disebutkan keenam fakultas tersebut adalah Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Hukum, dan Fakultas Sastra dan Filsafat.

 

Rektor pertama (Presiden) UGM yaitu, Prof. Dr. M. Sardjito. Pada saat yang sama juga ditetapkan Senat UGM dan Dewan Kurator UGM yang terdiri dari Ketua Kehormatan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Ketua adalah Sri Paku Alam VIII, seorang wakil ketua dan anggota.

 

Operasi Trikora – 1961

Operasi militer TRIKORA (Tri Komando Rakyat) merupakan konflik dua tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Ketika Belanda masih mengklaim bahwa Irian Barat masih merupakan wilayah kekuasaannya, Indonesia segera mengerahkan operasi militer secara besar-besaran untuk mengusir Belanda dari wilayah NKRI.

 

Mempertahankan wilayah Papua bagian barat dari Belanda ini menyisakan sejarah penting di dunia militer Indonesia. Pasalnya, TRIKORA ini diperintah langsung dari Presiden Soekarno untuk membebaskan wilayah tersebut pada 19 Desember 1961. Konflik ini berakhir pada 15 Agustus 1962.

 

Jatuhnya Pesawat Boeing 737-300 di Palembang 1997

Layanan penerbangan komersial rutin maskapai penerbangan SilkAir 185 dari Bandara Internasional Soekarna-Hatta, Jakarta, Indonesia ke Bandara Changi, Singapura mengalami kecelakaan pada 19 Desember 1997 sekira pukul 16.13 WIB. Pesawat Boeing 737-300 yang melayani rute ini jatuh di atas Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan.

 

Kecelakaan ini menewaskan seluruh orang yang ada di dalamnya yakni 104 orang yang terdiri dari 97 penumpang dan 7 awak kabin, termasuk pilot Tsu Way Ming dari Singapura dan Kopilot Duncan Ward dari Selandia Baru.

 

Pada 14 Desember 2000, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa penyebab dari kecelakaan tidak dapat diketahui. Namun, NTSB memiliki pendapat yang menyatakan bahwa penyebab kecelakaan merupakan tindakan bunuh diri Kapten Tsu dengan sengaja menjatuhkan pesawatnya ke laut atas sejumlah masalah yang sedang ia alami saat itu.

 

Sumber: okezone.com