Indonesia Miliki Potensi Menjadi Gudang Pangan Sehat Dunia

Kasatgas Bela Negara Mayjen Toto Siswanto menjadi narasumber di acara Ngopi KompasTV

Acara Ngopi Kompas TV yang menghadirkan Kepala Satuan Tugas Bela Negara Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Mayjen TNI Toto Siswanto, S.IP. M.M., sebagai narasumber, telah sukses tayang pada Selasa (06/08/20019) pada pukul 20.00 WIB.

 

Fenomena degradasi moral anak muda Indonesia saat ini, seperti banyaknya tindakan bullying sampai tingginya angka persentase mahasiswa dan pelajar yang terpapar paham radikalisme. Ini menjadi cerminan bahwa kaum milenial belum menjunjung rasa bela negara, kemudian muncul pertanyaan bagaimana dengan bela negara, dari siapa harus dibela.

 

Toto Siswanto menjelaskan bahwa sebagai warga negara sesuai amanat konstitusi wajib dan berhak membela negara dari segala ancaman.

“Jika ditanya membela negara dari siapa ya tentu dari segala ancaman dan tantangan yang saat ini nyata kita hadapi, baik itu datang dari dalam maupun dari luar. Terlebih sekarang ini, seperti kita tahu kecenderungan milenial kita banyak terlibat tindakan radikalisme, ya ini salah satu ancaman itu,” jelas Toto Siswanto.

 

Selain permasalahan sosial budaya, ancaman nyata juga datang dari bidang ketahanan pangan. Salah satunya adalah tingginya angka impor bahan makanan seperti terigu, padahal Indonesia memiliki potensi sumber-sumber bahan pangan yang dapat menggantikan terigu yaitu sagu. Penelitian membuktikan kandungan gizi yang ada pada sagu bahkan lebih baik daripada beras dan terigu.

“Bayangkan 50 persen sagu dunia itu ada di Indonesia, ini bisa dimanfaatkan untuk menggantikan beras dan kandungannya lebih baik daripada terigu. Selain itu, masih ada talas atau keladi, itu juga dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk menggantikan terigu, bahkan kita juga memiliki tumbuhan porang yang harganya mahal di pasar impor,” jelas Dr. Prayoga Suryadarma Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga hadir sebagai narasumber pada tersebut.

 

Milenial diharapkan dapat menyadari potensi tanaman asli Indonesia dan memiliki niat untuk mengembangkan dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Hal inilah yang coba diterapkan dikalangan mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui kegiatan-kegiatan yang digagas untuk mengembangkan potensi tanaman asli Indonesia sehingga memiliki nilai guna dan nilai jual tinggi.

Pegiat tanaman agro dan lingkungan, Nahum Eka Wanda melakukan hal nyata sebagai wujud bela negara dengan memaksimalkan potensi anak-anak muda atau milenial desa untuk bertani dengan cara yang benar.

“Gerakan ini lahir dari keprihatian saya, Indonesia negara agraris tapi tidak memiliki petani yang ada buruh tani, dan anak-anak desa diberitahu orang tua mereka untuk tidak menjadi seorang petani seperti mereka, ini pandangan yang salah sebenarnya. Profesi petani di Indonesia sangat menjanjikan tapi jika dijalankan dengan cara yang benar, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada, kamu bisa kaya hanya dengan bertani,” ucapnya.

 

Nahum menjelaskan bahwa secara historical, nasi bukanlah makanan pokok Indonesia sejak dahulu. Ternyata makanan asli penduduk Nusantara sejak dahulu kala adalah sagu, ini dapat dibuktikan dengan pahatan yang ada di relief candi Borobudur, yang ada pahatan gambar tumbuhan sagu bukan padi.

“Tanaman sagu tersebar di lahan sekitar lima koma tiga juta hektar di daerah Papua, dengan ini Indonesia memiliki gudang pangan sehat dunia, tapi kalau kita mau mengembangkan sagu tersebut,” tambahnya.

 

Bukan rahasia umum lagi jika milenial saat ini terbiasa mengkonsumsi makanan cepat saji dan makanan luar yang komposisinya banyak mengandung bahan kimiawi. Nahum menambahkan bahwa ini tentu berbahaya jika dibiarkan terus terjadi.

“Berbicara ketahanan pangan dan kedaulatan pangan, kita harus menyadari bahwa pangan itu penting untuk anak cucu kita. Ketika pangan sudah tidak sehat, ancaman stunting dan segala jenis penyakit ada di depan mata. Jadi, mulai sekarang mari sadar untuk makan makanan sehat yang berasal dari plasma nutfah nusantara, makanlah makanan asli nusantara,” jelas Nahum. ***(np)