Peluang, Tantangan dan Ancaman Ekonomi Digital

Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Setjen Wantannas) dalam kegiatan Coffee Morning menghadirkan narasumber Founder dan CEO e-Indonesia.id, Bari Arijono, S.Si. M.M. bertempat di Ruang NKRI, Lantai 5 Kantor Setjen Wantannas, Senin (09/09/2019).

Tema yang dibahas kali ini berkaitan dengan perkembangan Industri 4.0 yang saat ini baru masuk ke Indonesia yaitu The Future Of Indonesia’s Digital Economy “Peluang, tantangan dan ancaman”.

 

Bari Arijono mengungkapkan jika tahun-tahun sebelumnya yang banyak dibahas hanya sebatas peluang dan tantangan, namun sejak tahun 2018 para pakar dan praktisi sudah mulai concern terhadap ancaman yang muncul karena era digital ini.

Beberapa perubahan yang terjadi seperti teknologi perbankan yang dulunya adalah pioner, seiring waktu telah menjadi usang, sebagai contoh, uang tunai tidak lagi menjadi raja, sumber daya manusia yang memiliki keahlian di bidang developer semakin jarang, serta bermunculannya cyber crime.

“Ancaman nyata yang muncul sekarang ini adalah mata uang digital bukan rupiah, salah satu contohnya di Bali saat ini disediakan pembayaran mata uang negara lain seperti wechat dan Alipay,” ungkapnya.

 

Menurut Bari Arijono, hal ini terjadi karena belum adanya regulasi dari Bank Indonesia yang mengatur mengenai metode pembayaran ini.

Revolusi digital sedang terjadi di Indonesia, diperkirakan tahun 2030 menjadi peluang emas digital ekonomi di Indonesia. Hal ini didorong oleh potensi yang dimiliki Indonesia seperti bonus demografi yang akan menghasilkan sekitar 280 juta penduduk usia produktif, pengguna sosial media, pelaku UMKM, pengeluaran konsumen dan pendapatan masyarahat kelas menengah.

Namun dibalik itu, lanjutnya lagi, beberapa tantangan berikut harus bisa dijawab oleh bangsa ini seperti:

  • Indonesia belum memiliki kebijakan dan strategi nasional terkait pengembangan ekonomi digital yang komprehensif dan terintegrasi;
  • Transformasi struktural yang masih lambat, pertumbuhan nilai tambah industri rendah, ekspor rendah dan didominasi komoditas kualitas investasi rendah;
  • Keamanan data dan kepastian data e-ktp digunakan dengan terintegrasi dengan egovernance dan penggunaan satu data;
  • Proyek Palapa Ring yang dapat menyatukan jaringan komunikasi satelit hingga kabupaten dan kota di seluruh Tanah Air;
  • Marketplace untuk menyalurkan produk-produk UMKM kita sehingga bisa menjangkau pasar lebih luas terutama di negara lain; dan
  • Investor asing dari Cina, Jepang dan Singapura menguasai ekonomi digital Indonesia yang berdampak terhadap naiknya barang-barang impor, rendahnya penyerapan tenaga kerja lokal dan kepemilikan perusahaan yang lebih banyak di kuasai asing.

Sementara itu, ancaman dan resiko yang harus dihadapi karena pertumbuhan ekonomi digital antara lain cross border, persaingan usaha, tenaga kerja manusia versus robot, keamanan data, privacy konsumen, kedaulatan mata uang rupiah, asumsi ekonomi fundamental jangka panjang sudah tidak relevan lagi, siklus ekonomi lebih unpredictable, serta resesi ekonomi dunia 2020 paling buruk di Asia. ***(np)