Setjen Wantannas dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Peringati Hari Kesaktian Pancasila

 

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila yang diresmikan pada masa orde baru untuk memperingati perkabungan nasional bangsa Indonesia.

 

Dalam rangka menyambut dan memperingati hari penting dan penuh sejarah ini, Radio Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia, menghadirkan program spesial Hari Kesaktian Pancasila dengan tema “Kesaktian Pancasila di Tengah Ideologi Global” yang dipandu oleh Anca selaku Sobat Kru dari Polandia.

 

Sebagai narasumber dari lingkungan Setjen Wantannas yaitu Analis Kebijakan Bidang Perencanaan Kontinjensi Sosial Budaya Kedeputian Kedeputian Politik dan Strategi Kolonel Sus Drs. Agus Suharto, M.Si, bersama Deputi Pengendalian dan Evaluasi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Rima Agristina, Selasa (1/10/2019).

 

Siaran kali ini merupakan edisi khusus membahas mengenai sejarah Hari Kesaktian Pancasila, Ideologi Global dan upaya masyarakat Indonesia terutama pemuda pemudi Indonesia untuk dapat membantengi diri dari ideologi-ideologi yang tidak sesuai dengan Pancasila.

 

Seperti yang kita ketahui bahwa, Pancasila sudah menjadi filosofi dasar dan Ideologi global bangsa Indonesia yang terklasifikasikan ke dalam banyak bagian yang sudah hidup selama puluhan tahun dan mengakar dalam jiwa bangsa Indonesia sebagai landasan kehidupan bermasyarakat.

 

 

Agus Suharto menyampaikan, nilai-nilai Pancasila seharusnya sudah merasuk dalam jiwa masyarakat Indonesia agar masing-masing individu mampu bertahan dari dampak globalisasi. Jadi apapun pengaruh-pengaruh yang datang dari dunia luar akibat globalisasi, masyarakat bisa memilah mana yang sesuai dan tidak sesuai dengan ideologi bangsa.

 

“Jadi Pancasila itu juga sebagai filter terhadap pengaruh akibat globalisasi, dan menurut saya menanamkan nilai-nilai Pancasila tersebut yang paling strategis itu ya melalui jalur pendidikan,” ungkap Agus Suharto.

 

Sementara itu, Rima Agristina berpendapat bahwa Pancasila sebagai penerang dalam era masyarakat baru yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi.

 

 

“Dalam konsep ini, sudah seharusnya masyarakat mampu membangun kesadaran baru dalam era digitalisasi dan globalisasi, salah satunya yakni melalui nilai gotong royong. Semangat gotong royong yang ada, dapat dibangun melalui jaringan persatuan dan kesatuan” ujarnya.

 

Nenurutnya, persatuan dan kesatuan dapat tercipta apabila setiap individu tidak lagi mementingkan politik identitas, melainkan mementingkan martabat kemanusiaan melalui musyawarah mufakat.

 

Agus Suharto melalui siaran radio ini menyampaikan pesannya kepada generasi muda dan millenial agar kembali mengamalkan nilai-nilai Pancasila demi generasi bangsa yang lebih baik dan bermartabat, karena keberhasilan bangsa kita di masa depan ada di tangan generasi sekarang. ***(np)