SESJEN WANTANNAS LAKSDYA TNI ACHMAD DJAMALUDIN JADI KEYNOTE SPEAKER DI ACARA LEMBAGA KAJIAN NAWACITA

 

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Sesjen Wantannas) Laksdya TNI Achmad Djamaludin didaulat sebagai Keynote Speaker acara Diskusi Nasional Terbatas yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Nawacita, Selasa (26/11/2019) di Dharmawangsa Hotel, Jalan Brawijaya Raya No. 26 Jakarta Selatan.

 

 

Sesjen Wantannas hadir bersama pembicara lainnya yaitu mantan Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar, M.Sc, Guru Besar Ilmu Manajemen – Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rhenaldi Kasali, mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Ir. Ardiansyah Parman, dan Pimpinan Paskomnas Ir. Hartono Wigojopranoto.

Dengan tema Mengembangkan Ketahanan Pangan Nasional Menuju Kemandirian Pangan yang Berdaulat Berbasis Pada Kearifan Lokal, Achmad Djamaludin memaparkan latar belakang ketergantungan konsumsi pokok pangan bangsa Indonesia pada beras hingga hampir mencapai 100%.

“Sebagai negeri tropis, Indonesia kaya akan natural resources atau sumber bahan makanan pokok yang tersebar di beberapa wilayah Indoensia dan juga begitu banyak variasinya. Namun, natural resources tersebut belum semua bisa tereksploitasi atau dimanfaatkan secara nasional, bahkan beberapa diantaranya lebih dimanfaatkan secara lokal,” ucap Achmad Djamaludin.

Saat ini, lanjut Achmad Djamaludin, bangsa Indonesia memasuki era revolusi industri 4.0, di mana sinergitas antara masyarakat dan pemerintah melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan mampu mendorong terciptanya inovasi-inovasi ekosistem pangan pada ketahanan yang lebih unggul dan berkeberadaban.

Di samping itu, telah pula terjadi pergeseran paradigma ketahanan pangan, di mana sebelumnya ketahanan pangan lebih dimaknai pada upaya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi individu maupun masyarakat agar dapat hidup sehat dan berkesinambungan, sekarang ini ketahanan pangan lebih diorientasikan pada pemenuhan gizi agar setiap individu menjadi lebih cerdas dan juga memiliki daya saing yang tinggi.

Ketergantungan akan beras telah menyebabkan kebutuhan gabah terus mengalami peningkatan sebesar 3,48% per tahun. Bahkan, pada 2018 penyediaan gabah Indonesia mencapai sebesar 83,04 juta ton dan diperkirakan akan meningkat menjadi 84 juta ton di 2019. Hal ini berujung pada semakin mahalnya harga beras di pasaran.

 

 

Lebih dalam Achmad Djamaludin memaparkan, diperlukan kerja sama dan kerja keras pemerintah dan rakyat untuk mengembangkan makanan pokok alternatif atau melakukan diversifikasi makanan pokok. Sagu, jagung, singkong, ubi jalar, talas dan lain-lain merupakan makanan pokok alternatif yang tumbuh subur tersebar di wilayah Indonesia. Makanan pokok alternatif ini belum dimanfaatkan secara optimal, padahal sangat potensial uintuk dikembangkan sebagai pengganti beras dan terigu.

Diversifikasi produk pangan dan beras ini sangat menguntungkan secara ekonomis, selain meningkatkan pendapatan para petani, juga akan memutus mata rantai impor pangan, hingga pada akhirnya meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Acara Focus Group Action ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pangan Dunia pada Oktober lalu. Adapun tujuan utamanya adalah untuk mengedukasi masyarakat tentang ketahanan pangan.***(dfn)