SETJEN WANTANNAS ADAKAN RAKOR BAHAS POTENSI, PELUANG, TANTANGAN TANAMAN PORANG

Sesjen Wantannas LAKSDYA TNI IR. ACHMAD DJAMALUDIN, M.A.P memimpin Rakor Bahas Potensi, Peluang, Tantangan Tanaman Porang

 

Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Setjen Wantannas) mengadakan rapat koordinasi tanaman porang terkait potensi, peluang, tantangan dan penggunaan harmoni sistem /HS code bertempat di Situation Room, Lantai 5B, Kantor Setjen Wantannas, Kamis (28/11/2019).

 

Menurut berbagai penelitian, tanaman porang memiliki banyak manfaat dan bernilai ekspor tinggi. Hasil olahan umbi porang ini dapat dimanfaatkan menjadi bahan dasar obat – obatan, bahan dasar kosmetik, bahan campuran kertas, dan memiliki zat glukomanan dan mengandung banyak karbohidrat nonkolesterol untuk dikonsumsi.

 

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Laksdya TNI Achmad Djamaludin menyatakan saat ini bibit porang di Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan di dalam negeri namun sekarang jumlah ekspor bibit ke luar itu tinggi.

 

“Yang kita khawatirkan kalau bibit porang ini lebih banyak yang dieksport ke China, lama-lama kita kekurangan disini dan bisa – bisa di waktu ke depan, kita yang impor porang dari China,” ungkapnya.

 

Namun karena porang masih komoditi yang terbilang baru, sehingga memunculkan beberapa tantangan, dimana salah satu tantangannya adalah bibitnya yang mahal dan petani Indonesia senang menjual bibit ke luar negeri karena harga jualnya tinggi. Juga belum tertatanya dengan baik seluk beluk pemasaran porang dan HS Code nya yang masih termasuk dalam digit umbi-umbian.

 

Sesjen Wantannas juga menegaskan bahwa di Setjen Wantannas ada dua komoditi tanaman yang secara khusus didorong terus untuk dikembangkan yaitu Sagu dan Porang.

 

 

Langkah-langkah yang akan di kembangkan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan akan mengusahakan mengeluarkan Immigration Geography (IG) atau tanda asal barang berdasarkan keadaan alam, karena porang Indonesia adalah amorphophallus muelleri porang kuning yang mempunyai karakter khusus dan berbeda dengan porang di negara lain serta glukomanannya lebih tinggi. IG ini diharapkan dapat melindungi karakter asalnya yaitu dari Indonesia. Selain itu, Kementan juga sudah melakukan budidaya dengan teknik kultur jaringan untuk memperbanyak jumlah bibitnya.

 

Salah satu pegiat usaha tanaman porang yaitu Presiden Direktur PT. Ambico, Johan Soedjatmiko menyatakan setiap tahun angka komoditas porang semakin meningkat. Johan bercerita lima tahun lalu hanya ada dua perusahaan yang milirik komoditi ini, namun tahun ini jumlah perusahaan yang tertarik dengan komiditi ini sudah hampir puluhan jumlahnya, angka ini juga tidak termasuk dengan perorangan yang memilih bisnis di komoditi ini.

 

 

Pengolahan umbi porang menjadi chip ataupun tepung dapat memberikan nilai tambah. Jika umbi porang dihargai sebesar Rp 3.000,00/kg, maka chip porang dihargai sekitar Rp 24.000,00/kg, dan harga tepung porang dapat mencapai Rp 240.000,00/kg.

 

Perlu diketahui tanaman porang atau bahasa latinnya Amorphophallus oncophyllus ini adalah tanaman yang toleran naungan hingga 60%. Porang dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja di ketinggian 0 sampai 700 mdpl. Bahkan, sifat tanaman tersebut dapat memungkinkan dibudidayakan di lahan hutan dibawah naungan tegakan tanaman lain. Untuk bibitnya biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbinya yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung.