Juara! Siswa MAN 1 Kudus Ciptakan Teknologi Penghilang Bau Peternakan

 

Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kudus menciptakan teknologi penghilang bau peternakan ayam. Temuan ini membawa mereka ke posisi juara pertama Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat nasional.

 

Alat itu diberi nama Daguku, yang merupakan kepanjangan dari daun nanas, tongkol jagung, dan kulit pisang kepok. Daguku yakni adsorben gas amonia dalam peternakan ayam dengan sensor MQ135. Sedangkan Adsorben adalah zat yang sifatnya dapat menyerap zat lain sehingga menempel pada permukaannya tanpa reaksi kimia.

 

Kedua siswa penemu Daguku yakni Rima Destriani dan Dhea Puspitasari bersama guru pendamping. Rima, mewakili tim mengatakan bahwa alat yang mereka buat mempunyai sensor MQ 135, pipa paralon tempat adsorben, box elektronik berisi arduino, LCD 16×2 dan baterai, serta sensor MQ 125. Selain juga ada arang dari bahan daun nanas, tongkol jagung, dan kulit pisang kepok.

 

“Alat Daguku bekerja saat sensor MQ 135 mendeteksi gas amonia yang telah mencapai 15 ppm. Kemudian kipas akan berputar secara otomatis untuk mengalirkan gas amonia ke dalam arang akttif,” kata Rima kepada wartawan di sekolahnya, Jalan Conge, Bae, Kudus, Senin (4/11/2019).

 

“Setelah diserap, sensor MQ135 yang terletak di tutup pipa akan mendeteksi kadar gas amonia. Jika kadarnya lebih dari 15 ppm, maka kipas akan berhenti secara otomatis,” jelasnya lebih lanjut.

 

Dhe menambahkan bahwa latar belakang pembuatan alatan yakni adanya peternakan ayam di sekitar tempat tinggal mereka yakni di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak.

 

“Peternakan ayam menimbulkan bau yang mengandung Nh3. Masyarakat yang tinggal di sekitar merasa terganggu dengan bau busuk tersebut,” sambung Dhea.

 

Bahkan, lanjut dia, kadar gas amonia yang tinggi bisa menimbulkan sesak napas, sembab di paru, batuk darah dan lainnya.

 

“Karenanya kami buat alat yang dapat menyerap gas amonia otomatis, berbahan daun nanas, tongkol jagung, dan kulit pisang kepok yang dibuat dalam bentuk arang aktif,” imbuhnya.

 

Sehingga dengan alat ini, bau busuk dari peternakan ayam bisa berkurang. Dhea dan Rima mengaku sudah mencoba alat ini di peternakan kecil di wilayahnya.

 

Menurut guru pembimbing, Nurul Khotimah,tim ini baru membuat satu unit alat. Mereka berencana masih akan mengembangkan teknologi ini sehingga bisa menghilangkan bau selain amonia.

 

“Jadi bau bukan dari bau amonia saja. Ada CO, CO2, gas yang lain, tergantung nanti yang dideteksi apa,” kata dia.

 

Nurul menjelaskan para siswanya membuat alat ini selama Agustus hingga September 2019. Alat yang dibutuhkan terdiri dari beberapa barang bekas salah satunya paralon.

 

Bagian dari alat ini yang perlu sering diganti yaitu arang. Sebab arang yang akan bekerja ekstra dalam alat ini.

 

“Kemarin alat diaplikasikan ke kandang 1,5 meter x 1,5 meter. Kalau kandangnya besar, maka alat yang dipakai harus lebih besar,” terang Khotimah.

 

Dia menerangkan, saat lomba yang diadakan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini, timnya berhasil menyisihkan sekitar 100 peserta. Peserta yang lolos di tahap selanjutnya sebanyak 50, kemudian 10 peserta.

 

“Akhirnya kami juara 1. Acaranya 2 November kemarin,” imbuhnya.

 

Kepala MAN 1 Kudus, Suhamto mengapresiasi karya anak didiknya.

 

“Kami memang siapkan siswa yang mempunyai keinginan membuat karya. Karya yang juara nasional kami libatkan banyak tim. Sehingga siswa tertarik,” katanya di ruangannya.

 

Pihak sekolah juga merangsang siswa yang mempunyai karya dengan memberikannya beasiswa.

 

“Kami bedakan untuk siswa yang dapat prestasi kabupaten, nasional, dan internasional. Tapi beasiswa ini hanya nilai tambah saja. Tujuannya tetap belajar,” pungkasnya.

 

 

Sumber : https://news.detik.com