SESJEN WANTANNAS LAKSDYA TNI ACHMAD DJAMALUDIN JADI NARASUMBER DI ACARA SIMPOSIUM NASIONAL KNPI

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Sesjen Wantannas) Laksdya TNI Achmad Djamaludin hadir sebagai Narasumber dalam acara Simposium Nasional yang bertemakan Tata Kelola SDA dalam rangka Mewujudkan Ketahanan Nasional Demi Menjaga Keutuhan dan Kedaulatan NKRI. Acara diselenggarakan oleh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), di Gedung Aula Rimbawan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Selasa (14/1/2019).

 

                                    SESJEN WANTANNAS LAKSDYA TNI ACHMAD DJAMALUDIN JADI NARASUMBER DI ACARA SIMPOSIUM NASIONAL KNPI

Sesjen Wantannas menyampaikan presentasinya dengan judul Ketahanan Energi dalam Menunjang Ketahanan Nasional, hal ini dilandasi oleh kondisi dunia yang sedang menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya yaitu bagaimana memberi makan dan memasok energi secara berkelanjutan kepada 9,6 miliar orang pada tahun 2050 tanpa merusak sistem air dan lingkungan tempat kita bergantung. Kenaikan kebutuhan makan untuk 2,4 miliar orang tambahan akan membutuhkan 60% lebih banyak produksi makanan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa permintaan air tawar dunia akan meningkat sebesar 50% pada tahun 2050.

 

Indonesia juga menghadapi situasi yang sama dengan yang dihadapi dunia saat ini. Pemenuhan kebutuhan pangan dan energi meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Hal ini merupakan merupakan satu tantangan dan pada saat yang sama harus mampu mengintegrasikan pengelolaan lahan energi dan lahan pangan tanpa mengurangi kualitas air dan lingkungan hidup.

 

 

Laju pertumbuhan penduduk (bonus demografi) turut memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan ekonomi dunia.

 

“Kebutuhan energi dunia hingga tahun 2050 nanti masih akan didominasi oleh sektor industri dan transportasi, sama halnya dengan kondisi pada tahun 2018. Meningkatnya industri dan kendaraan bermotor memberikan kontribusi yang cukup besar pada peningkatan kebutuhan energi,” ujar Achmad Djamaludin.

 

Pada 2050, lanjut Achmad Djamaludin, sektor industri akan lebih mendominasi dibandingkan sektor lainnya hingga mencapai 42% dari total kebutuhan. Permintaan energi terbesar setelah industri adalah sektor transportasi, rumah tangga, dan sektor komersial lainnya.

 

“Tingginya penggunaan listrik di rumah tangga dipengaruhi oleh meningkatnya penggunaan alat elektronik yang semula berbahan bakar minyak beralih ke penggunaan listrik on grid,” tegas Sesjen Wantannas.

 

 

“Masyarakat Indonesia punya habit yang buruk dalam penggunaan energi. Sebagai contoh, penggunaan televisi dalam satu rumah saja tidak cukup 1 unit. Begitu pula dengan penggunaan elektronik lainnya maupun lampu-lampu penerang,” katanya lagi.

 

Lebih dalam Achmad Djamaludin mengatakan, kondisi energi kita saat ini masih bergantung pada minyak dan gas, dan hanya sebagian kecil mengandalkan energi terbarukan. Sementara untuk minyak dan gas Indonesia sudah menjadi net importir, artinya ketahanan energi bangsa kita sudah sangat rendah. Oleh karena itu, ada 3 plus 1 hal yang perlu ditingkatkan ke depan yaitu pengembangan biodiesel/biofuel, thorium, logam tanah jarang, dan nuklir.

 

Memanfaatkan nuklir adalah pilihan terakhir. Namun, mau tidak mau, di masa yang akan datang harus dikembangkan.

 

Hadir sebagai Narasumber lain diantaranya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI yang diwakili oleh Staf Khusus Menteri Bidang Jaringan Kerja Masyarakat dan Analisis Dampak Lingkungan Ir. Hanni Adiati, M.Si, anggota DPR RI Komisi IV Ihsan Firdaus, perwakilan dari Badan Intelijen Negara Wawan Purwanto dan Bupati Karawang Celica Nurracha Diana.***(dfn)